Siti Maryam, Mengubah Trauma Menjadi Daya (2-Habis): Jadi Sastrawan Buruh Migran dan Pengusaha Tiwul

- Senin, 6 Desember 2021 | 12:52 WIB
Siti Maryam. (suaramerdeka.com / dok pribadi)
Siti Maryam. (suaramerdeka.com / dok pribadi)

BEKERJA jauh dari anak bukan hal yang mudah bagi Siti Maryam, terlebih saat pertama menjejakkan kaki di Hong Kong bertepatan dengan bulan Ramadan.

Rasa nelangsa menghinggapi hatinya setiap hari, apalagi bayangan tokonya yang terbakar tak pernah lekang dari ingatan.

"Bukan hal yang mudah. Setiap hari saya menangis dan sedih. Bayangkan Mbak, pertama di Hong Kong pas puasa. Di negeri orang, tanpa anak dan keluarga. Dulu saya bos yang punya karyawan, tiba-tiba menjadi pekerja rumah tangga," kata Maryam sembari tertawa getir.

Sesekali pandangan matanya tertuju ke layar handphone untuk mengecek kabar terbaru putri sulungnya yang hari itu dijadwalkan menjalani operasi di RSUP Dr Kariadi Semarang karena gagal ginjal.

Baca Juga: Darmawan Prasodjo Jadi Direktur Utama PLN Gantikan Zulkifli Zaini

Maryam mengatakan, andai dia tidak mempunyai kebiasaan menulis, mungkin hari-hari itu akan sulit dilalui.

Dia mengaku beruntung karena sejak kecil terbiasa menulis buku harian. Baginya menulis bisa menjadi terapi untuk merilis segala kesedihan dan kemarahan.

Selama bekerja sebagai PRT di Hong Kong, Maryam selalu meluangkan waktu untuk menulis.

Kertas kalender bekas digunakan sebagai media menulis.

Baca Juga: Sinopsis Dari Jendela SMP Hari Ini 6 Desember 2021, Mama Linda Tidak Menjawab Telepon Wulan

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X