Gaya Koordinasi Ganjar Dikritik

Red
- Jumat, 11 Juni 2021 | 01:00 WIB
SM/Eko Edi - MEMBERIKAN PENJELASAN :Petugas Satpol Pamong Praja Jawa Tengah memberikan penjelasan kepada warga yang akan mengikuti vaksinasi Covid-19 di halaman kantor gubernuran, Kamis (10/6). (39)
SM/Eko Edi - MEMBERIKAN PENJELASAN :Petugas Satpol Pamong Praja Jawa Tengah memberikan penjelasan kepada warga yang akan mengikuti vaksinasi Covid-19 di halaman kantor gubernuran, Kamis (10/6). (39)

  • Imbas Kerumunan saat Vaksinasi

SEMARANG - Program vaksinasi yang digelar di kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Gedung Gradhika, Rabu (9/6) memicu kerumunan dan pelanggaran protokol kesehatan. Ribuan masyarakat mengantre tak teratur, sehingga rawan memunculkan klaster baru Covid-19.

Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah Deny Septiviant menyesalkan kejadian tersebut. Meski vaksinasi memiliki tujuan bagus, butuh kematangan dan kecermatan sebelum menjalankan kegiatan.

”Harus dilakukan evaluasi. Dihentikan dulu untuk sementara, untuk kemudian dilakukan perencanaan yang matang, dan saling sinergi dengan kabupaten/kota. Jangan terkesan, dan memang terlihat ingin beraksi sendirian seperti Sylvester Stallone di film Rambo,” ujarnya, Kamis (10/6). Menurut Deny, seharusnya gubernur bisa berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/ kota atas kegiatan vaksinasi tersebut.

Kegiatan bisa digelar di masing-masing kabupaten/ kota dengan stok vaksin yang dimiliki provinsi. ”Jangan terpusat di Kota Semarang saja. Di Jateng ini ada 35 kabupaten/kota. Apalagi katanya vaksinasi itu sedianya diprioritaskan bagi masyarakat lansia, dengan umur di atas 50 tahun. Prioritas ini yang harus menjadi perhatian gubernur,” ucapnya.

Deny membeberkan, masyarakat lansia dengan usia tersebut banyak ditemukan di desa-desa. Deny juga yakin, Gubernur Ganjar Pranowo tahu di mana banyak lansia berada. Semua tingkatan pemerintahan juga memiliki data sebaran lansia. ”Kalau ada koordinasi dengan kabupaten/ kota, maka vaksinasi bisa dilakukan dengan jemput bola.

Tim provinsi dan kabupaten/ kota bisa mendatangi para lansia yang ada di rumah masing-masing. Setelah cek kesehatan dan lain-lain, tinggal suntik vaksin,” bebernya. Dengan datang ke desa-desa, kata Deny, juga bisa sebagai bagian kegiatan sosialisasi pentingnya vaksinasi. Sebab masyarakat akan tahu sendiri bagaimana di vaksin, sekaligus manfaatnya.

”Karena masyarakat desa, apalagi para lansia juga bisa saja tak tahu bahwa ada vaksin bagi mereka. Karena kebanyakan hanya diunggah di media sosial.” Vaksinasi di gedung Gradhika direncanakan berlangsung hingga Desember tahun ini. Deny menghitung, dengan rencana tersebut masih ada sekira 120 hari untuk vaksinasi seperti yang digagas pemerintah provinsi.

”Kalau sehari ditarget 1.000, maka ada stok sekira 120 ribu dosis khusus dari provinsi. Ini kalau bisa dibagi 35 kabupaten/kota dan diprioritaskan bagi lansia, maka bisa menyasar 3.428 lansia di tiap kabupaten/- kota,” jelas pengurus GPAnsor Jateng ini. Jika banyak lansia sudah mendapatkan vaksinasi, kata Deny, maka upaya vaksinasi bagi semua masyarakat di provinsi ini bisa berjalan lancar. Sehingga harapan untuk segera terbesar Covid-19 semakin cepat.

”Jadi gubernur harus juga merenungkan hal ini. Jangan beraksi sendirian, karena ini demi kepentingan masyarakat luas. Apalagi sampai memunculkan klaster baru di gubernuran. Tentu kita tidak ingin itu terjadi,” tukas politikus PKB ini.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Anji eks Drive Ditangkap Konsumsi Ganja

Minggu, 13 Juni 2021 | 19:56 WIB

Ronaldo Tangkap Anji Manji Terkait Narkoba

Minggu, 13 Juni 2021 | 19:20 WIB

BMT UMY Gencar Lakukan Pembebasan Utang Riba

Minggu, 13 Juni 2021 | 17:09 WIB

Anak Muda Jangan Alergi dengan Partai Politik

Minggu, 13 Juni 2021 | 17:01 WIB

Update: Kasus Covid-19 di Rembang, Ini Sebarannya

Minggu, 13 Juni 2021 | 16:40 WIB
X