Peringatan Hari Guru Nasional: Salut! Ini 5 Kisah Hebat Perjuangan Para Guru di Indonesia

- Kamis, 25 November 2021 | 16:43 WIB
Ilustrasi guru mengajar/ pixabay
Ilustrasi guru mengajar/ pixabay

 

suaramerdeka.com- Dalam hidup kita, guru adalah salah satu orang yang berjasa, terlebih dalam bidang pendidikan.

Segala upaya guru untuk dapat mencerdaskan anak-didiknya tidaklah selalu mudah.

Terkadang, para guru harus melakukan perjuangan besar yang memakan waktu, tenaga, bahkan materi.

Karena perjuangan dalam mengajar yang tanpa pamrih, sudah sepantasnya guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Baca Juga: Arti dan Keutamaan Dzikir Sholawat Munjiyat, Teks Arab Lengkap dengan Terjemahnya

Seperti kisah perjuangan para guru berikut, yang harus berjuang lebih untuk bisa mengajar para muridnya, dikutip dari berbagai sumber.

1. Tembus sungai dan hutan selama 9 jam demi mengajar 

Guru Karyati Vederubun mengajar di Desa Atiahu, Dusun Balakeu, Kecamatan Silawat, Maluku.

Untuk bisa mengajar anak didiknya di pedalaman, guru Yati harus menginap di rumah warga dalam hutan selama 6 hari.

Baca Juga: PGRI Soal Guru Honorer: Pemerintah Jangan Persulit Penempatan Guru

Selama 6 hari itu ia mencukupkan diri dengan bekal yang dibawanya, jika kehabisan bekal ia memakan dedaunan di hutan dan air sungai.

Saat akan mengajar, ia harus mencari anak didiknya satu persatu karena seringkali mereka tidak ada di tempat yang dituju dan mereka masih hidup nomaden

Untuk itu guru Yati menyusuri hutan yang lebih dalam meskipun tidak ada akses kendaraan sama sekali. 

2. Tempuh 6 km jalan kaki untuk mengajar

Guru Abdul Khalik mengajar di Madrasah Ibtidaiyah DDI Hidayatul yang terletak di kampung Bara-baraya, Desa Tanete Bulu, Kecamatan Tompobulu, Maros, Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Adu Jotos TNI vs Polisi di Ambon Viral di Medsos, Berawal dari Kesalahpahaman

Jarak tempuh guru Khalik dari rumahnya ke tempat mengajar sejauh 30 km. Untuk itu ia berangkat mengendarai sepeda motor setiap harinya.

Namun, sepeda motor ini tidak bisa mengantar hingga tempat tujuan.

Ia harus menitipkan ke warga, lalu meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 6 km karena sulitnya medan tempuh.

Ia pun tinggal di sekolah untuk beberapa pekan, barulah saat perbekalannya mulai habis ia kembali pulang ke rumahnya.

Baca Juga: Dua Aktris Ini Dikonfirmasi Tergabung di Film Secret Bareng D.O EXO

Sayangnya, ia hanya mendapatkan gaji Rp250 ribu yang dibayarkan 3 bulan sekali. 

Demi mencukupi kebutuhannya yang mendukung pembelajaran dan trasportasi ia berjualan madu asli yang di dapat dari hutan untuk mencukupinya.

3. Tempuh perjalanan berjam-jam hingga jalan kaki, temui murid satu persatu di tengah pandemi.

Guru Suroto adalah guru asal Magelang yang kisahnya viral di tengah pandemi, bahkan diberitakan media internasional. 

Ia rela menghadapi risiko terpapar virus covid-19 karena harus menemui satu persatu anak didiknya yang berada di desa-desa terpencil.

Baca Juga: Guru Harus Jadi Teladan Mewujudkan Bangsa Pembelajar

Guru Suroto menempuh perjalanan selama berjam-jam dengan kendaraannya hingga berjalan kaki melewati gunung dan tebing untuk menemui muridnya.

Mereka adalah murid-murid yang terkendala dengan pembelajaran daring atau tidak memiliki akses internet.

Agar muridnya tidak tertinggal pendidikannya, maka guru Suroto merelakan dirinya yang menemui murid-murid karena tidak memungkinkan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. 

Baca Juga: Sebagai Panggilan Shalat Fardhu, Ini Arti dan Lafal dari Adzan Lengkap Teks Arab, Latin dan Terjemahnya

4. Rogoh Kocek yang Dalam untuk Sampai ke Sekolah

Kisah seorang guru bernama Diana Da Costa menambah sisi kelam pendidikan Indonesia.

Guru muda 23 tahun itu menyebutkan tempat tugasnya di SD Inpres Kaibusene, Kampung Kaibusene, Distrik Haju, pedalaman Kabupaten Mappi, Papua sangat sulit dijangkau dan membutuhkan dana yang tak sedikit.

Untuk menuju Kampung Kaibusene, terdapat dua jalur yakni jalur dengan ongkos murah dan jalur dengan ongkos mahal.

Jalur dengan ongkos murah ditempuh dari Keppi melalui Pelabuhan Keppi ke Pelabuhan Pagai menggunakan speed boat.

Tarif speed boat dibanderol dengan harga sewa Rp 800 ribu dengan waktu tempuh selama 1 jam.

Kemudian, dari Pelabuhan Pagai Diana harus berjalan kaki ke Tamaripim selama 2 jam.

Setibanya di Tamaripim, Diana menuju Distrik Haju menaiki ketinting atau perahu kecil dengan ongkos Rp 750 ribu yang mana harus ditempuh selama 2 jam.

Lalu, ia kembali naik ketinting dengan ongkos sewa Rp 300 ribu ke Kaibusene dalam waktu 1 jam 30 menit.

Sementara itu, jalur dengan ongkos mahal membuatnya harus merogoh kocek lebih dalam, yakni hingga Rp 5 juta. Pasalnya, tarif moda transportasi yang ia naiki terbilang cukup mahal.

Pertama, dari Kota Keppi ke Distrik Asgon, Diana harus menyewa mobil Hilux seharga Rp 3 juta.

Lalu dilanjutkan dengan sewa speed boat seharga Rp 1,5 juta untuk sampai ke Kaibusene, tempatnya mengajar.

5. Tak mampu menyekolahkan anaknya sendiri karena minim biaya

Sri Utami adalah seorang guru yang mengajar di daerah transmigrasi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

Sri ternyata memang hidup serba kekurangan. Jangankan untuk beli baju dan sepatu baru untuk mengajar, menyekolahkan anaknya saja ia tak sanggup.

Putra tercintanya hanya bisa mencicipi pendidikan hingga bangku SMP saat masih tinggal di Surabaya.

''Itupun dia bisa sekolah karena biayanya hasil patungan sanak saudara di sana. Sejak pindah ke daerah transmigran, anak saya hanya di rumah membantu ayahnya berladang,'' ucapnya.

Gaji dua ratus lima puluh ribu yang diterimanya setiap bulan, hanya habis untuk makan.

Sri dan dan suaminya menjadi transmigran di daerah itu, belum bisa berbuat banyak untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi.

Sejak pertama kali mengajar, Sri memang tak pernah berharap profesinya bisa menghasilkan banyak uang.

Dia mengambil keputusan untuk menghabiskan hidupnya menjadi pendidik, saat usianya baru menginjak dua puluh tahun.

 

 

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Atlet Program Semarang Emas Jalani Tes Fisik

Minggu, 28 November 2021 | 13:41 WIB

Banjir Bandang di Garut, 21 Rumah Rusak

Minggu, 28 November 2021 | 08:42 WIB

Rais Aam PBNU Putuskan Muktamar 17 Desember

Jumat, 26 November 2021 | 23:03 WIB
X