Rais Syuriyah PWNU: Demokrasi Transaksional Picu Ketidakadilan

- Rabu, 24 November 2021 | 20:57 WIB
Pembacaan Deklarasi Moderasi Beragama dipimpin Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (BLAS) Dr H Samidi MAg, (suaramerdeka.com/Dok)
Pembacaan Deklarasi Moderasi Beragama dipimpin Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (BLAS) Dr H Samidi MAg, (suaramerdeka.com/Dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama atau PWNU Jateng KH Ubedulloh Shodaqoh meminta pemerintah menghentikan praktik-praktik demokrasi transaksional di Indonesia.

"Demokrasi transaksional muncul untuk melawan Soeharto waktu itu. Tetapi sayangnya kebablasan dan praktik-praktinya masih dipelihara sampai sekarang," ujar Gus Ubed.

"Pemerintah harus konsekuen dengan Pancasila, karena demokrasi transaksional bila dibiarkan memicu ketidakadilan dan mempengaruhi semua sendi kehidupan. Karena itu harus segera diperbaiki," tegasnya.

Gus Ubed mengatakan hal itu saat menjadi pembicara Diseminasi Hasil Penelitian dan Deklarasi Moderasi Beragama, Rabu 24 November 2021.

Baca Juga: Ingin Wajah Putih Bersih? Coba Ramuan 4 Bahan Alami Ini

Kegiatan diselenggarakan di Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (BLAS) di Ballroom Hotel Pandanaran Semarang.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang Dr H Samidi MAg menjelaskan, Diseminasi Hasil Penelitian diikuti 55 peserta terdiri unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kanwil Kemenag, UIN Walisongo, Unwahas dan Ormas Islam.

Pada kesempatan itu Samidi mempimpin pembacaan Deklarasi Moderasi Beragama. Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen, Rais Syuriyah PWNU KH Ubedulloh Shodaqoh, Ketua PW Muhammadiyah Dr H Tafsir dan mimpinan Ormas Islam lainnya berada di panggung membaca deklarasi tersebut.

"Kami Elemen Keagamaan Provinsi Jawa Tengah Bersama Balai Litbang Agama Semarang, Siap Menyukseskan Program Gerakan Moderasi Beragama, Demi Keutuhan NKRI," kata Samidi ditirukan hadirin.

Baca Juga: Semarang Kota Terbaik Kedua dalam Layanan Investasi

Gus Ubed yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Tlogosari Semarang mengatakan, moderasi beragama merupakan persoalan global dan mendunia.

"Bukan hanya Indonesia yang menghadapi persoalan serius soal mengembangan praktik beragama yang moderat. Seluruh dunia menghadapi masalah ini."

"Mengatasinya harus bareng-bareng seluruh dunia. Terorisme dan radikalisme di Indonesia pengaruh dari Timur Tengah jadi harus dihadapi bersama," tegasnya.

Terhadap kelompok-kelompok yang terindikasi radikal, Gus Ubed meminta jangan mudah memberi stigma radikal.

Baca Juga: Toprak Razgatlioglu, Juara Dunia World Superbike 2021 Siap Ganti Nomor Musim Depan  

"Kalau ada kelompok yang terindikasi harus didekati dan didakwahi supaya kembali ke jalan yang benar," tegasnya.
 
Sementara itu Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen mengajak warga Jateng terus menyuarakan moderasi beragama.

"Bukan moderasi agama, karena pada dasarnya agama sudah moderat. Praktik beragama ini yang harus diperbaiki supaya moderat, tidak ekstrem atau tatoruf."

"Memang Sebagian umat masih memandang agama secara tekstual. Ada yang melihat kontekstual tapi tidak melihat sebab-sebabnya," kata Gus Yasin.

Halaman:
1
2

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X