Deteksi Dini Longsor Masih Minim, Warga di Perbukitan Diminta Lebih Waspada

- Rabu, 24 November 2021 | 19:24 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Dani Ramdan. (Dok. Bappeda Jabar)
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Dani Ramdan. (Dok. Bappeda Jabar)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Instalasi alat deteksi dini longsor di banyak kawasan rawan bencana di Jabar belum terpasang secara massif.

Untuk itu, masyarakat terutama yang berada di kawasan alur lembah diminta benar-benar waspada.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Dani Ramdan, merujuk kepada data BMKG, antara November-Desember mendatang, intensitas curah hujan bakal lebih banyak mengguyur kawasan selatan.

Kawasan tersebut lebih banyak menyimpan titik rawan gerakan tanah karena konturnya yang didominasi perbukitan.

Baca Juga: Lawan Rasa Malas, Ampuh dengan Cara Ini

Kawasan ini membentang dari Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran.

"Dibanding banjir, untuk early warning system longsor memang masih minim. Ada teknologi sederhana tapi jauh dari optimal," jelasnya di Bandung, kemarin.

Dani Ramdan menyebut bukan tanpa alasan pemasangan alat-alat tersebut jauh dari kesan memadai. Pasalnya, ketersediaan teknologi tersebut masih terbatas terutama dari sisi keandalan.

"Teknologinya cenderung tak berkembang. Untuk sensor tanah sepertinya masih sulit. Karena kita pun pernah mencoba, ada alat yang memang memberikan alarm ketika longsor tapi ada juga yang meski sudah longsor tak memberikan peringatan," katanya.

Baca Juga: Kerap jadi Kebiasaan, 5 Aktivitas Ini Sebaiknya Dihindari Setelah Makan

Di wilayahnya pun, imbuhnya, dengan kendala tersebut, hanya segelintir wilayah saja yang sudah dipasang alat deteksi dini longsor.

Di antaranya di Bogor, Garut, dan Bandung Barat. "Prosentase masih kecil banget," jelas Dani Ramdan.

Untuk menyiasati ancaman tersebut, dia menyebut bahwa warga tak jarang menggunakan teknologi sederhana.

Salah satunya, deteksi dari tali yang dibentangkan ke titik rawan sebagai penanda ambrolnya tanah.

Baca Juga: Berawal dari Kampus, Inilah Kisah Cinta Park Shin Hye dan Choi Tae Joon

Hanya saja, ini hanya efektif bagi gerakan tanah rayapan bukan ambruk sekaligus.

Disinggung kemungkinan mensupport dana pengembangan teknologi deteksi dini, Dani Ramdan menyatakan hal itu belum bisa dilakukan.

Pasalnya, anggaran yang disediakan di antaranya lebih banyak untuk keperluan tanggap darurat.

"Anggaran pencegahan belum terlalu banyak porsinya seperti untuk sosialisasi, simulasi, dan pengenalan sistem peringatan dini," jelasnya.

Baca Juga: Kurator Seni Antusias, Karya Patung Merebak di Taman Kota Semarang

Untuk deteksi dini, pihaknya mengaku lebih banyak merangkul relawan. Pasalnya, SDM mereka belum mempunyai kemampuan untuk menjangkau hingga tingkat desa.

Langkah ini diklaim efektif karena relawan yang direkrut merupakan kader setempat.

Dalam estimasinya, BPBD memperkirakan dibutuhkan hingga 60 ribu relawan yang berada langsung dalam kendalinya guna optimalisasi penanganan kebencanaan.

Hanya saja ini dipastikan akan terbentur persoalan anggaran.

"Karenanya, kami mendorong penggunaan dana desa supaya mulai diarahkan bagi penanganan bencana. Jangan hanya tanggap darurat saja, tapi juga ke pencegahannya," jelas Dani Ramdan.

Halaman:
1
2
3

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Liga Italia Pekan 23: Waktunya AC Milan Vs Juventus

Sabtu, 22 Januari 2022 | 06:26 WIB
X