Perubahan Iklim dan Keterasingan Pangan Lokal Mengancam Sistem Pangan Berkelanjutan

- Sabtu, 20 November 2021 | 18:14 WIB
DIALOG F2F: Sejumlah pegiat pangan lokal dari berbagai komunitas, akademisi dan perwakilan pemerintah mengikuti acara The Fork to Farm Global Dialogue yang difasilitasi Samdhana Institute di Ecocamp, Bandung, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Hartatik)
DIALOG F2F: Sejumlah pegiat pangan lokal dari berbagai komunitas, akademisi dan perwakilan pemerintah mengikuti acara The Fork to Farm Global Dialogue yang difasilitasi Samdhana Institute di Ecocamp, Bandung, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Hartatik)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Perubahan iklim merupakan ancaman serius bagi sistem pangan Indonesia, tetapi ancaman ini dapat dikurangi secara signifikan dengan mempromosikan pola makan tradisional dan praktik pertanian.

Ini adalah temuan kunci dari lokakarya “Fork to Farm”, yang difasilitasi oleh Samdhana Institute di Ecocamp di Bandung.

Dialog tersebut merupakan bagian dari acara sampingan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia dan melibatkan berbagai dialog lain yang terjadi secara paralel di seluruh dunia.

Baca Juga: Manis Lezat Kismis Baik Dikonsumsi Ibu Hamil, Ini 5 Manfaatnya 

Acara yang digelar virtual oleh Nourish Scotland itu difasilitasi Samdhana Institute, 5-6 November 2021.

Dialog tersebut bagian dari acara sampingan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) di Glasgow, Skotlandia dan melibatkan berbagai dialog lain yang terjadi secara paralel di seluruh dunia.

Sebagian peserta mengikuti dari Glasgow, sebagian lagi mengikuti secara online dari negara masing-masing.

Tim Indonesia yang mengikuti proses dialog secara online antara lain Destry Anna Sari (Asisten Deputi Konsultasi Bisnis dan Pendampingan Kementerian Koperasi dan UMKM), Jhonatan Yuditya Pratama (Komunitas Adat Dayak di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat), Adriana Ance (Komunitas Papha), Nunung (Pesantren Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat), Mustaqim (Komunitas Patalassang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan), Restiawati (Komunitas Kopi Tunanetra di Bogor, Jawa Barat), Naomi Waisimon (Komunitas Tabi di Kabupaten Jayapura, Papua), Angga Dwiartama (dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hayati-Institut Teknologi Bandung) dan Any Sulistyowati (fasilitator).

Baca Juga: Masuk Lima Besar PTM, Unimus Lahirkan Kaum Intelektual Perguruan Tinggi

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X