Inovasi pada Sistem Deteksi Dini Bencana Tak Bisa Berdiri Sendiri

- Sabtu, 20 November 2021 | 09:12 WIB
Ilustrasi bencana alam. (suaramerdeka.com / dok)
Ilustrasi bencana alam. (suaramerdeka.com / dok)

MIRIS memang. Dikenal sebagai supermarket bencana tapi pendekatan yang dilakukan dalam rangkaian penanganannya cenderung belum banyak berubah.

Masih terkesan reaktif ketika bencana terjadi, apalagi kejadiannya berskala besar, sehingga berupaya menunjukan keseriusan dalam bertindak pada saat itu (saja).

Karena selebihnya, kembali menjalankan rutinitas seperti sebelum-sebelumnya.

Setidaknya, itu merujuk kepada penjelasan Peneliti Gerakan Tanah Pusat Riset Geoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr Adrin Tohari, pekan ini tentang inovasi teknologi sistem deteksi dini longsor.

Baca Juga: Ormas-NGO Expo 2021 Sukses Digelar, Bukti Toleransi di Kota Semarang Berjalan Baik

Ketika bencana terjadi, instruksi untuk menggunakan bagian dari EWS (early warning system) langsung muncul.

Daerah pun menyambut, dan ternyata dalam perkembangannya, ada kecenderungan hanya menggunakan segelintir produk saja.

"Jadi penggunaan EWS longsor ini masih sangat terbatas, dan dilakukan ketika ada kejadian bencana hebat, ini pun setelah ada instruksi Presiden keluar atas bencana tersebut," katanya.

Mestinya, kesempatan itu memberikan ruang-ruang leluasa untuk banyak produk guna berkembang.

Baca Juga: Yudha Dawami Abdas Sampaikan Hak Jawab soal Permintaan Maaf ke Dedi Mulyadi via Facebook

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sempat Jadi Sultan, Warga Kampung Miliarder Kini Galau

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:55 WIB

RK: Kita Tak Pernah Merencanakan Pembangunan Ibukota

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:42 WIB
X