Figur Capres Belum Dominan, Dinamika Internal Partai dan Kemunculan Nama Lawas Jadi Risiko

- Rabu, 9 Juni 2021 | 18:15 WIB
Capres no urut 01, Joko Widodo bersama Iriana Jokowi tiba di lokasi Debat Final Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, (13/4). (Foto: Kumparan)
Capres no urut 01, Joko Widodo bersama Iriana Jokowi tiba di lokasi Debat Final Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, (13/4). (Foto: Kumparan)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Kehadiran figur yang sejauh ini belum kuat membuat bursa Capres 2024 bergerak sangat dinamis. Karena itu, tak heran nama-nama lawas masih kenceng dijagokan tanpa menafikan kemunculan calon-calon alternatif.

Tak hanya itu, situasi tersebut berimbas ke internal partai. Kompetisi di antara faksi muncul yang berujung pada soal siapa yang pantas diajukan sebagai jagoan partai dalam kontestasi seperti yang menimpa PDI Perjuangan.

"Ini memang problem partai selama ini dalam membangun kaderisasi. Tak memperbaiki proses rekrutmen, sehingga tak jarang pilih instan, hanya melihat elektabilitas figur non-partai, dan memberikan ruang bagi figur lama," kata Pengamat Politik Unpad, Firman Manan di Bandung, Rabu (9/6).

Nama-nama seperti Ridwan Kamil dan Anies Baswedan memang perlu jadi atensi menyusul hasil survei yang menempatkan mereka sebagai unggulan. Kemudian muncul pula nama Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

"Tapi mereka relatif belum kuat. Figur yang ada belum dominan. Tak hanya PDI Perjuangan tapi partai lainnya juga. Airlangga bahkan nampak seperti teknokratis. Suasananya berbeda dibandingkan Jokowi, terutama di periode keduanya yang praktis tak menghadirkan dinamika," katanya.

Baca Juga: Dinkes Jateng: 18 Persen Masyarakat Tidak Taat Prokes

Khusus partai banteng dalam lingkaran, dia menyebut faktor Megawati Sukarnoputri sebagai ketua umum, sangat berpengaruh.

Dengan demikian, ribut-ribut yang melibatkan nama Puan Maharani dan Ganjar Pranowo relatif bisa lebih cepat diredam.

Lebih dari itu, katanya yang ditemui di sela-sela hasil survei "Toleransi & Radikalisme di Jabar: Temuan di 9 Kabupaten dan Kota" yang dirilis Indonesian Politics Research & Consulting (IPRC), situasi tersebut tak lebih sebagai fenomena yang lumrah dalam tubuh partai.

"Ini kan ada faksi yang tak nyaman dengan Ganjar Pranowo sementara ada juga yang ingin mendorong Puan Maharani sehingga situasinya jadi dinamis," jelasnya.

Selain Mega, dia juga melihat faktor trah Sukarno ikut menentukan dalam menuju proses pencalonan tersebut. Memang ada Puan, hanya saja, hasil survei belum terlalu memihak dibanding Ganjar. Belum lagi nama Mensos Tri Rismaharini yang ikut meramaikan bursa.

Baca Juga: Ini 3 Dasar Penganugerahan Profesor Kehormatan untuk Bu Mega dari Unhan

Baginya, dengan suasana dinamis plus isu regenerasi, terutama soal penerus estafet kepemimpinan partai, penetapan Capres dari PDI Perjuangan bakal lebih kompleks terutama dalam menjaga soliditas. Langkah Mega akan sangat menentukan mengingat resikonya.

"Sejauh ini, dalam menangani situasi tersebut, PDI Perjuangan relatif akan lebih tertib. Tapi dikaitkan regenerasi di internal partai, itu sepertinya perlu dilakukan setelah penetapan figur yang dianggap cakap, lebih dulu dilakukan Mega," katanya.

Dalam amatannya, Firman Manan yang juga Direktur Eksekutif IPRC itu menyebut Megawati sebagai tokoh sentral partai belum menunjukan keberpihakannya. Tapi dipastikan satu nama yang dirilis segera didengar untuk menuntaskan dinamika internal.

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X