Survei Toleransi dan Radikalisme di Jabar, di Tingkat Pergaulan Akur Soal Figur Pilih Bertempur

- Rabu, 9 Juni 2021 | 17:07 WIB
Foto: SM/Dok
Foto: SM/Dok

BANDUNG, suaramerdeka.com - Dalam memupuk toleransi, masyarakat Jabar dinilai menjunjung tinggi termasuk dalam memberikan pemahaman sejak dini.

Hanya saja, situasinya berubah ketika dihadapkan pada pilihan figur dalam kontestasi politik. Pertimbangan seiman sangat mempengaruhi pilihan tersebut.

Hal itu mengemuka dalam hasil survei "Toleransi & Radikalisme di Jabar: Temuan di 9 Kabupaten dan Kota" yang dirilis Indonesian Politics Research & Consulting (IPRC) di Bandung, Rabu (9/6).

"Dalam aspek hubungan sosial tingkat toleransi cukup baik, seperti mau berteman, bertetangga, jual beli, bermusyawarah, pendirian tempat ibadah agama lain maupun membantu pihak dari agama lain. Hanya pengisian jabatan-jabatan publik yang bermasalah," kata peneliti IPRC, Idil Akbar.

Baca Juga: Antusiasme Hari Transportasi Umum, Jumlah Penumpang Trans Semarang Naik

Warga tak mau dipimpin presiden, gubernur, hingga bupati dan walikota dari figur yang berbeda agama.

"Mayoritas menyatakan keberatan. Untuk presiden, itu suaranya mencapai sekitar 66,9 persen yang menolak, gubernur 64,4 persen, dan bupati serta walikota 63,3 persen," katanya.

Survei tersebut melibatkan 396 responden warga Kota Depok, Bekasi, Bogor, Kabupaten Tasik, Ciamis, Garut, Purwakarta, Karawang, dan Kabupaten Cirebon dengan metode multistage random sampling.

Pemilihan daerah itu mewakili karakteristik demografis Jabar yakni masyarakat perkotaan (urban), transisi (sub-urban), dan perdesaan (rural). Margin of error dari survei yang digelar pada 20 – 30 April 2021 itu plus minus 5 persen.

Baca Juga: Cegah Covid-19 Meluas, Desa Batas Kudus Didesinfektan

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Target 8 Kursi, PKB Kota Semarang Gelar Evaluasi

Minggu, 26 September 2021 | 19:45 WIB

CSIS: Komunikasi Politik Airlangga Hartarto Kuat

Minggu, 26 September 2021 | 17:40 WIB
X