Tantangan Vaksinasi Covid-19 Global

Red
- Jumat, 4 Juni 2021 | 01:10 WIB
SM/dok - Sugeng Ibrahim (b01m)
SM/dok - Sugeng Ibrahim (b01m)

Distribusi Logistik

Tantangan yang sama juga dihadapi oleh Iindonesia terkait geografis dan demografisnya. Masalah ìcold chainì atau pengawetan vaksin sampai dengan sebelum disuntikkan, membutuhkan sistem pendingin suhu yang bervariasi, antara minus 2 sampai minus 8 Celcius (Synovac, Sinopharm, Astra Zeneca, dan Novavac) sampai dengan minus 20 Celcius ke minus 60 Celcius (Pfizer, Moderna, Sputnik), menimbulkan tantangan atas inaktivasi vaksin sampai titik pelayanan, terlebih untuk negara kepulauan seperti Indonesia.

Tantangan itu antara lain transportasi ke daerah terpencil- terisolir, infrastruktur gudang berpendingin, serta kepatuhan protokol penyimpanan. Namun tantangan yang terutama sebenarnya yakni regulasi atas EUA serta konsekuensi permintaan pembebasan atas tuntutan/beban hukum atas risiko KIPI (kejadian ikutan pascaimmunisasi) yang diminta oleh sebagian produsen vaksin (Pfizer dan Astra Zeneca). Semua itu turut menyumbang kelambatan penyediaan dan logistik.

Satu masalah utama yang lain dalam penyediaan vaksin global adalah keraguan, kurangnya keyakinan bahkan hilangnya kepercayaan atas keamanan vaksin Covid- 19. Keraguan yang sejauh ini muncul yakni menyangkuat keamanan terkait risiko pengentalan/ penjendalan darah dan Covid-19 yang berkepanjangan. Kemudian efektivitas atas vaksin untuk virus yang bermutasi (meskipun sejatinya sampai hari ini belum ditemukan bukti yang menurunkan efektifitas vaksinasi secara bermakna). Juga misinformasi atau hoaks di media sosial yang sangat marak.

Tidak ada vaksin apapun selama sejarah keberadaannya, yang 100 % aman. Namun patut diyakini, segala risiko yang mungkin dan telah timbul , tidak menurunkan kemaknaan atas manfaat vaksinasi Covid-19. Untuk risiko atas penjendalan darah, studi membuktikan sifat alami efek akibat infeksi Covid- 19 sendiri, 10 kali lebih tinggi dibanding akibat Vaksinasi Covid-19.

Terkait mutasi atas berbagai varian Covid-19 , terutama B 117 (Inggris), B 1351 (Afrika Selatan), dan P1 manaus (Brasilia), sejauh ini hanya terbukti meningkatkan ketertularan dan kecepatan infeksi. Tidak satupun bukti yang menunjukan lebih mematikan. B117 Inggris hanya menaikkan kematian tercatat atas yang diteliti dari 1 % menjadi 1,3%. Juga pada 6.000 tenaga kesehatan yang divaksin , hanya 44 yang terkena infeksi Covid-19.

Sampai hari ini masih diteliti apakah peningkatan kasus aktif di Inggris ,Afrika Selatan, India, dan Brasil diakibatkan mutasimutasi tersebut atau karena ketidakpatuhan atas protokol kesehatan.

BNPB dan Kemenkes telah melaporkan bahwa B117 adalah varian terbanyak yang telah masuk ke Indonesia (17 kasus), sementara varian lainnya termasuk B1617,2 dari India, hanya 1 kasus. Sejauh kekhawatiran yang timbul atas mutasi tersebut, Vaksin Moderna dan Pfizer masih efektif atas mutasi India.

Yang paling penting untuk disikapi atas mutasi adalah, sebagaimana kejadian pandemi Covid-19 ini dan pandemi Flu Spanyol 100 tahun lalu, semuanya adalah kekuatan alam, sebuah seleksi alam atau competition of the fittest. Tantangan sejati adalah atas kepatuhan individu, kepatuhan bersama, konsistensi kebijakan , keteladanan pemimpin, dan kesabaran kolektif dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Ukuran virus Covid-19 ini tak berubah , tetap di kisaran 20 nm. Virus ini tak akan menembus masker 2 lapis minimal , masker operasi , apalagi masker N 95. Virus ini tak akan tertransmisi bila antarindividu menjaga jarak 2 meter, virus ini mati oleh air sabun .

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Menyikapi Penurunan Kualitas Demokrasi Selama Pandemi

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:23 WIB
X