Revisi RPJMD, Pemprov Jateng Terlalu Pesimistis

- Selasa, 1 Juni 2021 | 07:15 WIB
Wakil Ketua pansus Revisi RPJMD Hadi Santoso. (suaramerdeka.com / dok)
Wakil Ketua pansus Revisi RPJMD Hadi Santoso. (suaramerdeka.com / dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pemerintah Jawa Tengah masih terlalu pesimistis dalam memasang prediksi pertumbuhan ekonomi dalam target indikator kinerja utama dalam revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2018 - 2023.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua pansus Revisi RPJMD Hadi Santoso. Menurutnya Pemprov masih terlalu pesimis, dan belum memaksimalkan potensi hadirnya Proyek Strategis Nasional di Jateng, ini artinya Jateng hanya jdi penonton tingginya investasi di Jateng.

Menurut Hadi yang juga wakil ketua komisi D DPRD Propinsi Jawa Tengah tersebut potensi sangat jelas, munculnya perpres 79/2019 yang melahirkan Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Brebes, Kawasan Strategis Pariwisata  Nasional Borobudur dan Perpres 109/2020 yang mendorong lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang tinggal bagaimana memanfaatkan.

Baca Juga: Dugaan Pungli Wisatawan Lava Tour Merapi Terjadi Lagi

"Dilihat dari target yang dipasang belum tercermin optimisme, ribuan kendaraan proyek di Jateng tidak mampu diolah untuk menaikan pajak daerah, juga belum terlihat terobosan mengambil potensi pendapatan dari lahirnya kawasan industri ini bagi pemerintah," kata dia.

Menurut Politikus PKS ini dalam revisi target untuk indikator kemiskinan sampai 2023, dikoreksi dari 7,8 persen naik 10,27 persen, pengangguran terbukanya juga naik 5,67 persen,  pertumbuhan ekonomi dipasang turun dari 6.0 persen menjadi 5,29 persen.

"Pemerintah masih beralibi soal Covid-19, seolah kita tidak bisa kendalikan sampai 2023,  padahal KSPN Borobudur terus berjalan, KI Kendal, KIT Batang sudah lari kencang, masak target 7 persen dari pemerintah pusat tidak berani kita pasang minimal mendekati, di angka 6,2 persen?" tandasnya.

Baca Juga: Pasar Desa Medang Didatangi Tim Tracing Covid-19, Ada Apa?

Kondisi ini menurut Hadi kontras dengan Jawa Timur yang mampu mengoptimalkan potensi perpres 80/2019 soal percepatan ekonomi, revisi RPJMD Jatim sudah cenderung positif di atas RPJMD lama sejak tahun 2021.

"Pendapatan mereka diatas target 2020, semua indikator sudah diatas target di 2021, bahkan mereka berani mentarget kontribusi terhadap ekonomi nasional di atas 40 persen hanya selisih sedikit dari Jakarta, fantastis, kita perlu banyak belajar ke Jatim," tegasnya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X