Demokrasi Mengakar Kuat di Muhammadiyah dan Aisyiyah

- Senin, 31 Mei 2021 | 15:03 WIB
Prof Hyung-Jun Kim dari Kangwoo National University saat memaparkan materi di seminar Unisa Yogyakarta (suaramerdeka.com/istimewa)
Prof Hyung-Jun Kim dari Kangwoo National University saat memaparkan materi di seminar Unisa Yogyakarta (suaramerdeka.com/istimewa)

 

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Selama lebih 100 tahun para ilmuan menganggap sistem demokrasi sulit untuk kompatibel dengan Islam. Ini terjadi karena adanya pandangan bahwa Islam tidak memungkinkan adanya pemisahan antara negara dan agama.

''Namun, Muhammadiyah dan Aisyiyah dapat memberi contoh yang ideal untuk melihat bagaimana sistem demokrasi bisa berjalan dalam organisasi keagamaan,'' ungkap pengamat keislaman, Prof Hyung-Jun Kim dari Kangwoo National University.

Menurutnya, unsur-unsur yang terdapat di dalam Muhammadiyah dan Aisyiyah jauh lebih kuat dari konsep civil society yang terdapat di negara-negara barat.

Unsur-unsur tersebut didukung oleh beberapa pilar dalam tradisi demokrasi Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Baca Juga: Kapolri Pastikan Izin Liga 1 dan 2 Segera Terbit

Pilar itu antara lain ideologi, sistem kepemimpinan, sistem keputusan, hubungan anggota, sistem megolah amal usaha dan sistem operasi.

Ia mengungkapkan pandangannya seminar nasional virtual dalam rangkaian kegiatan Milad ke-30 tahun Universitas Aisyiyah.

Seminar mengangkat tema Tradisi Demokrasi Persyarikatan Muhammadiyah/Aisyiyah, yang digelar FEISHum UnisaYogyakarta.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X