Adopsi Teknologi Digital Pada Sektor Pertanian Perlu Dipercepat

Red
- Selasa, 25 Mei 2021 | 09:15 WIB
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Adopsi teknologi digital pada  sektor  pertanian  Indonesia  perlu dipercepat  untuk  meningkatkan  kualitas  dan  produktivitasnya. Salah satu indikatornya adalah semakin banyaknya pekerja pertanian berusia muda.

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki daya lenting tinggi selama pandemi Covid-19. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya kenaikan jumlah tenaga kerja di sektor  pertanian  sebanyak  2,78  juta  selama  periode  Agustus  2019  hingga  Agustus  2020.

Salah satu hal menarik dari tren kenaikan jumlah pekerja sektor pertanian adalah naiknya keterlibatan pemuda berumur 16-30 tahun. Survei Angkatan Kerja Nasional oleh BPS menyatakan sebanyak 20,62 persen pemuda  Indonesia  bekerja  di  sektor  pertanian  pada  Agustus  2020,  naik  dari  periode sebelumnya yang berjumlah 18,43 persen.

“Naiknya  jumlah  pemuda  di  sektor  pertanian  di  masa  pandemi  ini  dapat  menjadi  momentum tepat untuk memperluasadopsi teknologi di sektor pertanian. Sebanyak 85,62 persen di antara merekamerupakan  pengguna  internet  dan  berpeluang  menjadi early  adopter dari  teknologi  digital  di sektor pertanian,” terang Peneliti Centerfor Indonesian Policy Studies (CIPS)Indra Setiawan.

Penggunaan teknologi digital pertanian mampu memberikan perubahan positif bagi para petani. Data McKinsey (2020) memperkirakan bahwa penggunaan teknologi modern di sektor pertanian dapat menambah keluaran ekonomi hingga $6,6 miliar per tahun.

Kehadiran teknologidigital pertanian dapatmenghubungkan petani langsung dengan konsumen dapat  mempersingkat  rantai  pasok.  Para  petani  juga  dapat  mengurangi  ketergantungannya dengan tengkulak.

Selama ini, petani lebih banyak menjual hasil pertanian dalam jumlah besar ke tengkulak. Hal ini menyebabkan petani tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk menentukan harga produsen.

“Di samping itu, petani juga memiliki akses terhadap informasi harga komoditas di pasaran yang akurat  dan  transparan. Pemahaman  yang  kuat terhadap  dinamika  harga  komoditas  pertanian dapat membantu petani untuk menentukan harga produsen secara lebih terukur,”jelas Indra.

Teknologi  digital  pertanian  yang  fokus  pada  jasa  keuangan  membuka  lebih  banyak  akses terhadap sumber pendanaan yang cocok. Saat ini petani kecil memang telah menikmati program Kredit  Usaha  Rakyat  (KUR)  sebagai  sumber  pendanaan  untuk  aktivitas  pertanian.

Halaman:

Editor: Nugroho

Terkini

X