Tingkat Keberhasilan Tinggi, Terapi Plasma Konvalesen Diharapkan Dapat Mengatasi Pandemi Covid-19

- Sabtu, 22 Mei 2021 | 21:27 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pengobatan Civid-19 melalui plasma darah yang diambil dari penyintas Covid-19, yang dikenal dengan terapi plasma konvalesen (TPK),  sempat menimbulkan pro-kontra. Maka digelar webinar bertema Convalescent Plasma Therapy oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha (UKM) dan didukung oleh PT Itama Ranoraya Tbk dan PT Terumo Indonesia.

Menurut Dr. dr. Theresia Monica, R., Sp.An., KIC., M.SI., MM., MARS. dari Fakultas Kedoteran UKM, terapi plasma konvalesen merupakan salah satu bentuk dari vaksinasi pasif yang diambil dari pasien sembuh Covid-19. "Plasma yang dimiliki pasien sembuh ini mengandung kekebalan tubuh yang cukup tinggi. Dengan penanganan yang tepat, terapi ini dapat membantu pasien membentuk antibodi untuk melawan infeksi virus ini," katanya, pada webinar Sabtu.

Selain Dr. Theresia Monica dan Dr. dr. Ria Syafitri Evi Gantini, M. Biomed. dari Palang Merah Indonesia, yang mewakili Idonesia,

Tiga pakar TPK dari AS, Profesor Michael J. Joyner, M.D. dari Mayo Clinic, Profesor Arturo Casadevall, M.D., M.S., Ph.D. dari Johns Hopkins dan Profesor Pirofski, M.D. dari Albert Einstein College of Medicine, juga hadir. Seminar daring ini merupakan kelanjutan dari Gerakan Donor Plasma Konvalesen Nasional Januari 2021 lalu.

Dekan Fakultas Kedokteran UKM, Dr. dr. Diana Krisanti Jasaputra, M.Kes,  acara webinar ini bertujaun memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Diharapkan menambah wawasan ilmu pengetahuan, mendorong penelitian dengan desain yang baik tentang TPK  dan menghantarkan bangsa Indonesia menjadi pionir dan trendsetter dalam ilmu Iptek.

Dr. Monica, yang juga Ketua PPIDK (Pusat Pengembangan, Inovasi & Kerjasama) Fakultas Kedokteran UKM, mengungkapkan bahwa banyak sekali penelitian dengan hasil yang berbeda mengenai TPK, ada yang memberikan hasil mendukung dan sebaliknya. Tetapi sebenarnya, keberhasilan TPK tergantung dari beberapa faktor utama yaitu: dosis, kadar antibodi dan waktu pemberian.

Supaya terapi plasma ini maksimal, terdapat kondisi atau kriteria tertentu yang harus diperhatikan. Dr. dr. Ria Syafitri Evi Gantini, M. Biomed dari PMI mengatakan untuk menjadi donor plasma konvalesen yaratnya berusia 18-60 tahun, berat badan minimal 55 kg. Diutamakan pria, atau jika perempuan belum pernah hamil. Pernah terkonfirmasi Covid-19. Membawa Surat keterangan sembuh dari dokter yang merawat. Bebas keluhan minimal 14 hari. Tidak menerima transfusi darah selama 6 bulan terakhir, dan lebih diutamakan yang pernah mendonorkan darah.

Profesor Michael J. Joyner, M.D. dari Mayo Clinic mengungkapkan bahwa metode terapi plasma konvalesen ini bukan hal baru, bahkan metode serupa pernah diterapkan pada masa pandemi flu Spanyol (H1N1) pada 1917 - 1918, dan cukup berhasil sebagai metode penyembuhan. Di masa sekarang dengan ilmu kedokteran yang sudah maju, terapi plasma ini terbukti dapat menurunkan mortalitas pada pasien Covid-19.

Hal senada juga diungkapkan oleh Profesor Arturo Casadevall, M.D., M.S., Ph.D. dari Johns Hopkins, bahkan TPK termasuk terapi yang populer di Amerika Serikat. Hanya saja, ia mengingatkan bahwa terapi ini sebaiknya diterapkan secara tepat.“Efektivitas dari plasma ini bergantung dari jumlah yang diberikan, misalnya, dosisnya harus tepat. Juga, lebih cepat tindakan, tentu lebih baik,” katanya.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Terkini

Target 8 Kursi, PKB Kota Semarang Gelar Evaluasi

Minggu, 26 September 2021 | 19:45 WIB

CSIS: Komunikasi Politik Airlangga Hartarto Kuat

Minggu, 26 September 2021 | 17:40 WIB
X