Nostalgia Rois Syuriyah PWNU-Wali Kota Semarang, Ini Kisahnya

Nugroho
- Sabtu, 22 Mei 2021 | 15:54 WIB
(suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)
(suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Ada kalanya pejabat pemerintah sowan ke rumah kiai atau alim ulama tidak selalu membahas persoalan serius dan masalah berat tentang kondisi masyarakat. Kadang-kadang mereka bercandaria, guyonan dan tertawa lepas melepas kepenatan akibat rutinitas sehari-hari.

Gambaran itu terlihat saat Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersilaturahim ke rumah Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh SH, Jumat, 21 Mei 2021.

Seusai Shalat Jumat, Mas Hendi, panggilan akrab Wali Kota Semarang janjian dengan Gus Ubed, panggilan akrab KH Ubaidullah Shodaqoh di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Tlogosari Wetan, Semarang. Hendi didampingi Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Arnaz Agung, Wakil Sekretaris PWNU Mahbub Zakky (Boby), Kepala Dinas Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Ali, Kepala Dinas Sosial Drs Muthohar MM, Plt Kabag Kesra Ali Sofyan dan Plt Camat Pedurungan Ali Muchtar. Sedang Gus Ubed didampingi adiknya Sholahuddin Shodaqoh, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kota Semarang dan Kholison Bendahara PWNU Jawa Tengah.

Sambil menikmati kopi yang disajikan sahibul bait, keduanya asyik menghisap rokok. Menariknya bukan rokok kretek layaknya penikmat rokok. Keduanya menyulut rokok ‘’tingwe’’ alias ngelinting dhewe. ‘’Ini tembakau asli dari Temanggung,’’ tutur Gus Ubed kepada Hendi.

‘’Mas Hendi ini adik kelas saya, sama-sama satu almamater di SMA Negeri 1 Semarang,’’ tutur Mbah Rais, panggilan Kiai Ubaidullah di kalangan Nahdliyyin. ‘’Saya lulusan 1986, Mas Hendi lulusan 1990,’’ tambah Gus Ubed. ‘’Yang aneh itu, kok ada lulusan SMA Negeri 1 Semarang yang jadi Kiai Besar seperti Gus Ubed,’’ kata Hendi sambal tertawa lepas.
 
Sembunyikan Rokok

Keduanya asyik bernostalgia masa-masa SMA. Mbah Rais mengaku harus bangun pagi-pagi dari kampung Bugen, naik sepeda onthel untuk sekolah di SMA 1 yang terletak di Jalan Menteri Soepeno Semarang. Bagi siswa perokok ada larangan keras merokok di sekolah. Tas mereka sering kali digeledah oleh ibu-bapak guru.

‘’Tetapi para murid tak kalah akal, mereka sembunyikan rokok di kaus kaki sehingga tak ketahuan gurunya,’’ tutur Gus Ubed.

Pengalaman Hendi beda lagi. Saat mereka asyik merokok di belakang kelas, salah satu guru memergoki mereka lagi asyik menghisap rokok. Guru itu tidak menegur tetapi membiarkan murid-murid sampai rokoknya habis. Ketika satu persatu dipanggil namanya, mereka tidak menyahut, karena di dalam mulutnya ada asap rokok, ‘’Pokoknya lucu-lucu deh,’’ tutur Wali Kota.

‘’Kami hanya silaturahim, Lebaran, mohon maaf lahir batin dan yang pasti nostalgia sesame alumni SMA1,’’ kata Hendi.

Halaman:

Editor: Nugroho

Terkini

X