Jalani Isolasi, Sungkem lewat Video Call

- Senin, 17 Mei 2021 | 01:00 WIB
SM/dok - FOTO BERSAMA : Suhartono bersama keluarga kecilnya saat menjalani isolasi mandiri di RSUD Soewondo, baru-baru ini. Insert: Wiwin Novitasari. (39)
SM/dok - FOTO BERSAMA : Suhartono bersama keluarga kecilnya saat menjalani isolasi mandiri di RSUD Soewondo, baru-baru ini. Insert: Wiwin Novitasari. (39)

Suara takbir yang terdengar di langit Rumah Sakit Soewondo Pati pada Rabu (12/5) malam terasa berbeda. Suasana gembira sekaligus haru dirasakan oleh sepasang suami istri yang berada di ruang Wijaya Kusuma.

PASANGAN itu adalah Hartono bersama Siti Rahmawati, istrinya dan sang buah hatinya. Warga RSS Sidokerto, Kecamatan Kota itu memang harus tinggal sementara di ruang isolasi RSUD Soewondo setelah dinyatakan positif Covid-19 kurang dari sepekan menjelang Lebaran. Keduanya masuk dalam daftar klaster Sidokerto dengan total 56 warga yang terkonfirmasi. Rasa bahagia muncul lantaran bagi mereka Lebaran tetaplah menjadi hari kemenangan setelah satu bulan penuh menjalani ibadah puasa. Sementara rasa haru mereka rasakan lantaran tak bisa dirayakan di rumah bersama sanak keluarga maupun tetangga dan sahabat.

”Masih beruntung karena tidak hanya saya dan keluarga namun juga ada puluhan tetangga RSS Sidokerto lainnya yang juga turut menjalani isolasi mandiri di RSUD Soewondo. Jadi Lebaran kali ini kami rayakan bersama-sama disini. Meski terbatas, namun penuh makna,” tulisanya melalui aplikasi pesan kepada Suara Merdeka. Kepada keluarga di rumah dia dan istrinya hanya melakukan sungkem lewat pesan video. Meski begitu suasana haru justru semakin terasa. Hal itu membuatnya semakin belajar bersyukur. Baginya Allah sedang memberikan pelajaran yang luar biasa dengan kondisi serba terbatas.

”Satu hal yang kami syukuri di hari kemenangan, kami tetap bisa melaksanakan salat Idulfitri meskipun hanya beberapa orang. Khutbah pun dilaksanakan sangat sederhana. Momentum itu sangat mengharukan. Kondisi yang sangat terbatas. Tentu mengingatkan keluarga dan orang terkasih yang berada di rumah. Hati terasa perih,” lanjutnya. Baginya, suara takbir yang dikumandangkan beberapa kali membuat hatinya semakin bergetar sebagai pertanda dalamnya rasa haru. Jamaah pun terlihat banyak yang menitikkan air mata.

”Hal itu juga begitu saya rasakan. Apalagi tidak hanya saya yang menjalani isolasi mandiri namun juga istri dan bayi kami yang masih berusia 1,5 bulan,” imbuhnya. Kejutan bingkisan nasi opor serta kunjungan rombongan Bupati Pati Haryanto menjadi motivasi tersendiri baginya pada Lebaran kemarin. Dari makanan khas Lebaran itu dia merasa mendapatkan semangat baru. Opor itu semakin melengkapi kesan hari raya baginya.

”Kami pun sempat disapa Pak Bupati. Meski hanya melambaikan tangan. Tapi yang pasti, itu sangat berarti bagi kami yang sedang kondisi terbatas. Setidaknya kami mendapatkan perhatian dan bisa merayakan Lebaran,” terangnya. Dia sendiri mengaku baru mengetahui positif Covid-19 setelah dilakukan tracing. Setelah beberapa tetangganya dan keluarganya dinyatakan terkonfirmasi, diapun menjalani tes pada Jumat (7/5).

Rupanya dia dan istrinya dinyatakan positif. ”Saat itu semalaman tak bisa tidur. Berusaha menghibur diri dengan menelepon orangtua yang ada di kampung. Kebetulan selama ini saya tinggal berjauhan dengan orangtua. Awalnya ingin berkabar tak bisa pulang ke orangtua karena harus isolasi di rumah sakit. Ternyata tak kuat untuk jujur, terpaksa memilih berbohong jika kami baik-baik saja,” ujarnya. Hal itu terpaksa mereka lakukan lantaran ada alasan kuat. Dia mengaku orangtuanya memiliki riwayat hipertensi dan penyakit paru-paru. Oleh karena itulah dirinya tak mengharapkan ada kabar buruk tentang keluarganya tersebut.

Tetap Bertugas

Bagi umat muslim, Idulfitri merupakan waktu yang spesial. Tak terkecuali bagi umat muslim di Indonesia. Momentum yang ditunggu tiap tahun untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, dua kali perayaan hari kemenangan itu tak dirasakan oleh Wiwin Novitasari, tenaga medis di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Demak. Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020 lalu, dia harus melewatkan dua kali Idulfitri dengan bertugas.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Meski Pandemi Jangan Menyerah Mencari Nafkah

Minggu, 20 Juni 2021 | 19:49 WIB

Arus Bawah Ingin Sosok Muda Pimpin PPP DIY

Minggu, 20 Juni 2021 | 06:40 WIB

BTS Meal dan Solidaritas Army Indonesia

Minggu, 20 Juni 2021 | 01:27 WIB

Jangan Buat Regulasi yang Hegemonik

Minggu, 20 Juni 2021 | 01:17 WIB
X