Sebelum Adanya Larangan, Sekitar 2/3 Orang Berencana Mudik

Red
- Sabtu, 8 Mei 2021 | 18:15 WIB
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com – Sebelum pandemi, sekitar 3/4 warga kota besar di seluruh Indonesia mudik. Namun sewaktu pandemi melanda di tahun 2020, jumlah ini menurun drastis menjadi hanya sepertiga saja yang mudik. Jumlah pemudik dari DKI Jakarta merupakan yang terendah dibandingkan pemudik dari daerah lain karena larangan mudik oleh pemerintah waktu itu.

Tahun ini, sebelum diresmikan larangan mudik secara nasional oleh pemerintah, sekitar 2/3 orang berencana mudik, di mana jumlah pemudik tahun ini mendekati jumlah pemudik sebelum pandemi terjadi. Namun, setelah pengumuman larangan mudik, jumlah calon pemudik langsung turun sampai dengan 58 persen.  Persentase ini pun masih tinggi mengingat pemerintah melarangnya. Rencananya mereka akan mudik jauh sebelum masa dilarang mudik berlaku, yaitu tanggal 7 – 17 Mei 2021.

Ini merupakan survei online yang dilakukan RB Consulting, Research & Business Consulting bekerja sama dengan Snapcart melakukan survei online kepada 1.050 responden laki-laki dan perempuan usia 18-50 tahun yang merayakan Idul Fitri di semua kelas sosial ekonomi, tinggal di Pulau Jawa, Sumatera dan beberapa daerah di Indonesia. Survei ini diadakan dua kali yaitu tanggal 26 Maret 2021 kepada 300 responden sebelum pengumuman pemerintah untuk melarang mudik, dan tanggal 1-5 April 2021 kepada 750 responden setelah pengumuman tersebut. Dan hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut.

“Meskipun pandemi masih kita rasakan saat ini, namun keinginan masyarakat untuk mudik berlebaran di kampung halaman cukup tinggi, yakni 67 persen sebelum pengumuman pemerintah tentang pelarangan mudik, dan 58 persen masih tetap akan mudik meskipun sudah ada larangan mudik dari pemerintah," kata Iwan Murty, CEO RB Consulting.

Seperti biasa, kebiasaan belanja masyarakat selama bulan Ramadhan dipastikan meningkat dibandingkan bulan-bulan bulan-bulan lainnya. Sebelum pandemi, sekitar 52 persen dari responden mengatakan bahwa pengeluaran mereka meningkat selama Ramadan. Tahun 2020 lalu sewaktu pandemi, angka ini turun drastis menjadi hanya 33 persen.  Tahun ini, 46 persen responden memperkirakan pengeluarannya akan meningkat lagi selama Ramadhan dibandingkan bulan-bulan normal.  Angkanya sama di semua kelas sosial ekonomi yang kemudian bisa mengindikasikan bahwa konsumen merasa positif atau mempunyai keyakinan yang lebih tinggi terhadap situasi saat ini.  Sebagai perbandingan 5 tahun yang lalu, tahun 2016, jumlah responden yang mengatakan pengeluaran mereka meningkat selama bulan Ramadhan jauh lebih tinggi mencapai sekitar 69 persen.

Iwan Murty menambahkan, bahwa selain belanja makanan dan minuman, belanja kebutuhan lainnya sangat berkurang drastis. "Responden di kelas sosial ekonomi atas mempunyai rencana untuk bersantap di luar rumah seperti di restoran atau di mall dibandingkan responden dari kelas sosial ekonomi menengah ke bawah, dan rencana makan di luar ini juga lebih tinggi di antara pekerja. Nampaknya pengumuman pemerintah daerah bahwa Jakarta mendapat kelonggaran berusaha dan restoran bisa beroperasi sampai pukul 22:30 (batas sebelumnya pukul 21:00) dapat mendorong pembelanjaan konsumen," tambahnya.

Ramadan tahun ini adalah tahun ke-2 dalam masa pandemik, oleh sebab itu aktifitas digital menjadi jalan keluar untuk tetap bersilaturahmi dan menunaikan ibadah.  Halal bihalal, ngabuburit dan transfer angpau Lebaran menjadi kegiatan yang mendominasi dilakukan secara digital. Selain ketiga kegiatan tersebut, lonjakan kegiatan yang dilakukan secara digital lainnya adalah zakat, sungkeman, pengajian dan shalat Ied kemudian infaq dan sodaqoh.

Satu dari lima responden mengatakan pasti akan pergi kalau ada undangan untuk buka bersama.  Laki-laki yang berusia lebih muda cenderung memastikan akan menghadiri undangan buka bersama. Sebanyak 52 persen kemungkinan akan datang, 21 persen kemungkinan tidak datang dan enam persen saja yang sama sekali tidak akan datang.

Akun media sosial dan aplikasi Islami dipergunakan oleh 52 persen responden laki-laki dan 64 persen responden perempuan.  Lebih banyak perempuan dari pada laki-laki yang menggunakannya. Sementara responden usia 18-24 tahun merupakan pengguna terbanyak 62 persen, disusul oleh 25 – 34 tahun 56 persen dan usia yang lebih tua 35-50 tahun, sebanyak 52 persen.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Peringati HSN, Ini Bunyi Ikrar Santri Indonesia

Selasa, 19 Oktober 2021 | 15:16 WIB

Simak Filosofi Tema dan Logo Hari Santri Nasional 2021

Selasa, 19 Oktober 2021 | 14:28 WIB
X