Empat LPNK Dilebur ke BRIN, Handoko: Kalau Hanya Ganti Baju, Tidak Ada Artinya

- Jumat, 7 Mei 2021 | 11:12 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok Biro Setpres
Foto: suaramerdeka.com / dok Biro Setpres

JAKARTA, suaramerdeka.com - Empat lembaga riset pemerintah nonkementerian (LPNK) akhirnya dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keempat lembaga tersebut adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menegaskan komitmen BRIN menjadi platform pencetak SDM unggul. Untuk itu, lembaga baru itu akan berkreativitas dalam koridor regulasi dan berharap ada dampak ekonomi dari aktivitas riset. ‘’Kita tidak bisa membiasakan tradisi tetapi kita harus mentradisikan yang benar. Kalau hanya ‘ganti baju’ saja, tidak akan ada artinya,” tegas Handoko di Gedung BJ Habibie, Jakarta Rabu (5/5).

Handoko memaparkan tiga arah kebijakannya dalam memimpin BRIN. Pertama melakukan konsolidasi sumber daya (manusia, infrastruktur, anggaran) iptek untuk meningkatkan critical mass, kapasitas dan kompetensi riset Indonesia untuk menghasilkan invensi dan inovasi sebagai fondasi utama Indonesia Maju 2045.

Baca juga: BRIN Siap Ciptakan Ekosistem Riset dan Inovasi yang Lebih Baik

Kedua, menciptakan ekosistem riset sesuai standar global yang  terbuka (inklusif) dan kolaboratif bagi semua pihak (akademisi, industri, komunitas, pemerintah. Ketiga, menciptakan pondasi ekonomi berbasis riset  yang kuat dan berkesinambungan dengan fokus digital - green - blue economy.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BRIN juga menyampaikan tujuh target BRIN. Dirinya menekankan konsolidasi lembaga riset pemerintah utama pada 1 Januari 2022. “Transformasi proses bisnis dan manajemen riset secara menyeluruh ditargetkan untuk percepatan peningkatan critical mass sumber daya manusia, infrastruktur, dan anggaran iptek,” katanya.

 Target berikutnya, Handoko menyebutkan refocusing pada riset untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi berbasis sumber daya alam dan keanekaragaman (hayati, geografi, kelautan) lokal, selain mengejar ketertinggalan iptek. “Menjadikan Indonesia sebagai pusat dan platform riset global berbasis sumber daya alam dan keanekaragaman (hayati, geografi, seni budaya) lokal juga merupakan taget lain yang tidak kalah penting,” tuturnya.

Selain empat taget di atas, Handoko menargetkan fasilitasi dan enabler industri lokal melakukan pengembangan produk berbasis riset, dan menciptakan industri dengan basis riset kuat dalam jangka panjang. Langkah ini menjadi platform penciptaan SDM unggul di setiap bidang keilmuan, dan entrepreneur berbasis inovasi iptek, dan meningkatkan dampak ekonomi langsung dari aktivitas riset, dan menjadikan sektor iptek sebagai tujuan investasi jangka panjang serta penarik devisa.

Editor: Andika

Tags

Terkini

Gus Yahya: Jangan Sampai Peradaban Runtuh

Selasa, 7 Februari 2023 | 14:02 WIB

Ini 4 Quotes Para Tokoh Terkait Peringatan 1 Abad NU

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:42 WIB
X