Ganjar Tetap Minta Santri Tak Mudik

Red
- Senin, 26 April 2021 | 01:10 WIB
SM/humas.jatengprov.go.id - BERKUNJUNG :Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi Yayasan Sosial dan Panti Asuhan At-Taqwa Dukuh Genting, Meteseh, Tembalang, Semarang saat gowes jelang berbuka puasa, Sabtu (24/4). (55)
SM/humas.jatengprov.go.id - BERKUNJUNG :Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi Yayasan Sosial dan Panti Asuhan At-Taqwa Dukuh Genting, Meteseh, Tembalang, Semarang saat gowes jelang berbuka puasa, Sabtu (24/4). (55)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan pada para santri agar menahan diri dan tidak mudik saat Lebaran nanti. Dia meminta para santri turut menjadi bagian dari tren baik penanganan Covid-19 saat ini. Hal itu disampaikan Ganjar, saat gowes jelang waktu berbuka puasa ke Yayasan Sosial dan Panti Asuhan At-Taqwa, Dukuh Genting, Meteseh, Tembalang, Semarang, Sabtu (24/4). ”Nggak boleh (mudik),” ujar Ganjar di hadapan para santri At-Taqwa. Ganjar menjelaskan, pelarangan mudik ini merupakan bagian dari pencegahan. Pasalnya, saat mudik akan menimbulkan keramaian.

Pada sisi lain, muncul kekhawatiran protokol kesehatan yang diabaikan. ”Jadi gini, kenapa kok nggak boleh mudik, karena kalau mudik itu rombongan. Kalau rombongan banyak sekali. Kalau banyak sekali, nanti ada potensi ketularan,” kata Ganjar. Ganjar meminta agar para santri mencari berita tentang corona di India. ”Kemarin itu India hanya butuh waktu 15 hari, yang ketularan banyak sekali. Mohon maaf, yang meninggal banyak sekali,” ucap Ganjar. Contoh tersebut diambil Ganjar agar para santri bisa mengerti dan mau menahan diri untuk tidak mudik.

”Maka sebaiknya kita tahan dulu. Nggak usah mudik, terus kemudian cukup kasih salam-salam saja. Pak Gubernur juga nggak mudik kok,” tutur Ganjar. Ganjar juga menyapa santri yang berasal dari Ngawi, Medan dan Palembang. Kepada mereka, Ganjar meminta agar menunda mudik dan menyapa keluarganya secara daring dengan video call. ”Kamu Ngawi? Kamu video call. Ndak papa kan kalau nggak pulang kan kancane ya akeh neng kene to, Shalat Id di sini barengbareng, Medan nggak usah pulang,” kata Ganjar.

Kasus Positif Meningkat Sementara itu, dalam minggu terakhir ini ada peningkatan kasus positif Covid-19 di Jawa Tengah. Karena itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta kabupaten/ kota jangan kendor menerapkan protokol kesehatan. ”Ada lonjakan, tertinggi di Cilacap. Ada peningkatan dari Ponpes, namun lonjakannya tidak ribuan. Belasan sampai puluhan saja,” kata Ganjar kemarin.

Sebagaimana diketahui, peningkatan kasus itu misalnya terjadi di Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang. Klaster baru muncul di wilayah RT 12 RW I. Sebanyak 25 warga setempat diketahui terpapar Covid-19. Mereka positif covid-19 setelah takziah di wilayah Temanggung. Sementara itu di Pati, sebanyak 37 warga Desa Kuryokalangan Kecamatan Gabus terkonfirmasi positif Covid-19. Para korban terkena Covid-19 usai mengikuti kenduri (hajatan) seorang warga setempat, yang pulang mudik dari merantau.

Bahkan Bupati Pati, Haryanto menghentikan sementara ujicoba pembelajaran tatap muka di sekolah. Kepada wartawan, Haryanto mengatakan langkah tersebut untuk mencegah terjadinya klaster baru. Penghentian tersebut disebabkan ada guru dan siswa yang mengikuti uji coba tatap muka dinyatakan positif Covid-19. Melihat fakta tersebut Gubernur meminta kabupaten/kota untuk siaga. ”Jangan kendor dulu. Memang desakan untuk kendor banyak. Semua harus disiplin dulu,” tegas Ganjar.

Sementara itu update terakhir Dinkes Jateng 25 April pukul 12.00 dalam corona.jatengprov.co.id, diketahui total terkonfirmasi positif atau dirawat sejumlah 6.831. Dari data sehari sebelumnya ada penambahan 266 orang. Sementara jumlah total yang sembuh sebanyak 166.457 orang, atau bertambah 524 orang. Sementara itu, terkonfimasi meninggal dunia bertambah 19 jiwa sehingga totalnya berjumlah 11.650 orang. Akademisi Unika Soegijapranata Djoko Setijawarno menilai jika pemerintah terlalu banyak memberikan dispensasi, kesannya pemerintah tidak serius untuk mengurangi penyebaran Covid-19 saat mudik.

”Banyak pihak sudah sepakat, sampaisampai pengusaha bus yang terdampak besar mau menaati pemerintah. Justru sekarang tiba-tiba ada permintaan dispensasi dari penguasa,” ujarnya. Menurut Djoko, jika pemerintah terlalu banyak memberikan dispensasi, nanti akan banyak pihak yang meminta dispensasi. ”Bayangkan saja jika nanti Ketua MPR, Ketua DPR, serta para ketua partai minta dispensasi.

Apa gunanya aturan yang sudah dibuat susah-susah. Cabut saja semua aturan mudik yang sudah dibuat, karena nanti terlalu banyak dispensasi yang diminta,” ujarnya satir. Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengklaim tak meminta dispensasi atau kelonggaran larangan mudik bagi santri, tapi hanya ingin memfasilitasi mereka mudik sebelum larangan berlaku.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Liga Italia Pekan 23: Waktunya AC Milan Vs Juventus

Sabtu, 22 Januari 2022 | 06:26 WIB
X