Dukungan dan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pemenuhan Hak-hak Pasien TBC

Red
- Selasa, 13 April 2021 | 20:00 WIB
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com – Penyakit Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit menular yang paling mematikan di dunia sebelum pandemi Covid-19 melanda. Menurut data kementeraian Kesehatan seperti yang disampaikan pada peringatan HTBS 2021 lalu, Indonesia termasuk delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TBC di seluruh dunia, menempati posisi kedua setelah India dengan kasus sebanyak 845.000 dengan kematian sebanyak 98.000 atau setara dengan 11 kematian/jam.

Penanganan pandemi Covid-19 mengalihkan perhatian pemangku kebijakan terhadap isu kesehatan lainnya termasuk TBC. Menyadari besarnya permasalahan penyakit TBC, khususnya jenis resisten obat, semua pihak perlu mengantisipasi meledaknya penyebaran penyakit ini di masa dan pasca pandemic.

Dalam peringatan hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) pada 24 Maret 2021 lalu yang mengusung tema “Setiap Detik Berharga, Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis”, POP TB Indonesia turut hadir dan terlibat dalam acara yang diselenggaran oleh Kementerian Kesehatan bersama dengan TP2AK Setwapres yang berfokus pada follow up komitmen yang sudah dideklarasikan oleh Presiden RI dengan adanya penegasan kembali pentingnya isu TBC oleh Wakil Presiden Republik Indonesia untuk meningkatkan komitmen dari Kementerian dan Lembaga lain serta Pemerintah Daerah.

Rabu, 14 April 2021 mendatang, POP TB Indonesia dengan menghadirkan 4 Narasumber yang masing-masing dari Kementerian Kesehatan RI, Dokter Spesialis Paru, Penyintas TBC dan Yayasan Kusuma Buana, akan mengadakan "Konferensi Pers" dalam rangka kampanye publik yang dilakukan di Jakarta secara terbuka terbatas, untuk menyelaraskan peran dan komitmen multi sektor tentang hambatan Sosioekonomi, Hak Asasi Manusia, ketidaksetaraan/kekerasan berbasis Gender, permasalahan dalam dunia kerja, serta akses pelayanan TBC yang berkualitas serta mendorong percepatan penyusunan rancangan Peraturan Presiden tentang TBC.

Salah satu permasalahan HAM yang kerap terjadi pada pasien TBC ialah pemecatan secara sepihak oleh perusahan/tempat kerjanya, tanpa alasan yang jelas. “Saya sendiri mengalaminya, saya dipecat secara sepihak dan BPJS saya diputus tanpa pemberitahuan oleh perusahaan padahal saat itu saya masih dalam pengobatan awal TBC," kata Selly, penyintas TBC.

Perlu kita ketahui, masalah yang dihadapi pasien TB bukan hanya penyakit saja melainkan juga persoalan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), stigma dan diskriminasi. Permasalahan yang dialami berkaitan dengan akses dan kualitas pelayanan, pelanggaran hak asasi manusi, hak atas informasi, hak atas partisipasi, hak atas pekerjaan), hilangnya pendapatan rumah tangga, masalah kekerasan berbasis gender, dan sebagainya.

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

13 Tokoh Ini Berjasa di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda

Minggu, 24 Oktober 2021 | 08:26 WIB

Vaksinasi dan Prokes Kunci Pulihnya Sektor Parekraf

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 21:52 WIB
X