BATAN Studi Kelayakan PLTN di Kalimantan Barat

- Senin, 12 April 2021 | 15:22 WIB
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional, Prof Dr Ir Anhar Riza Antariksawan menyampaikan paparan kinerja lembaga.(suaramerdeka.com/Agung PW)
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional, Prof Dr Ir Anhar Riza Antariksawan menyampaikan paparan kinerja lembaga.(suaramerdeka.com/Agung PW)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Dua derah di Indonesia, Jepara dan Bangka merupakan tempat yang layak untuk pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Namun ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pemerintah sehingga belum memutuskan untuk memulai pembangunan PLTN.

''Studi tapak di kedua lokasi menyebutkan sudah layak bahkan di Bangka kami masih memasang peralatan untuk memantau kondisi di sana. Kini kami akan melakukan studi yang sama di Kalimantan Barat,'' ungkap Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional, Prof Dr Ir Anhar Riza Antariksawan di Yogyakarta, kemarin.

Ia mengakui isu rencana pembuatan PLTN sudah ada sejak tahun 1970an. Namun puluhan tahun berlalu, belum ada keputusan merealisasikannya. Lembaganya bertugas melakukan studi kelayakan tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga ekonomi, sosial dan lainnya. Ia bekerja sama dengan banyak pihak mulai dari masyarakat setempat, universitas, pemerintah daerah dan tentu saja pemerintah pusat dari berbagai kementerian terkait.

Baca Juga: Tahun Ini, Studi Tapak PLTN di Kalimantan

Hasil studi kelayakan menjadi laporan dan masukan bagi pemerintah di daerah dan pusat. BATAN tidak dalam kapasitas memutuskan pembangunan PLTN. Kebijakan pembangunan ada di pemerintah pusat.

Dokumen Studi

Anhar menjelaskan studi kelayakan di Kalimantan Barat meliputi studi lokasi, kondisi geografis dan geologis, keekonomian, kelistrikan, sosial dan lainnya. Pihaknya menggandeng BPPT, Universitas Tanjungpura, Kementerian ESDM, pemerintah daerah dan lainnya. Dokumen studi menjadi masukan pemerintah pusat.

''Hingga sekarang belum ada keputusan kapan akan mulai pembangunan. Kalau jadi, pembangunan PLTN di Kalbar bukan dalam skala besar. Kami berusaha selalu mendorong supaya penggunaan energi baru dan terbarukan menggantikan energi fosil,'' paparnya.

Ia mencontohkan negara Uni Emirat Arab sudah memiliki PLTN meskipun negara itu kaya minyak. Negara tersebut melihat harus ada energi terbarukan yang dapat menggantikan minyak. Mereka juga ingin melakukan penghematan, efisiensi dan efektivitas.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Baru Sebulan Diresmikan, Jembatan di Karawang Ambles

Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:41 WIB

Gita Amperiawan Jadi Dirut DI yang Gres

Jumat, 28 Januari 2022 | 00:13 WIB
X