Pembelajaran Tatap Muka Layak Segera Dilakukan, Ini Pertimbangannya

- Jumat, 9 April 2021 | 13:09 WIB
Foto dokumentasi
Foto dokumentasi

JAKARTA, suaramerdeka.com - Lebih setahun siswa harus belajar dari rumah. Di Jakarta uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan sejak Rabu (7/4/2021) sudah dilakukan ujicoba PTM di 85 sekolah tingkat SD-SMA/SMK yang akan berlangsung sampai 29 April 2021.

Ini merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri. SKB yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri itu mengatur PTM secara terbatas dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Menanggapi hal tersebut, pengamat vaksinasi dari Universitas Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama memahami dengan keluarnya SKB tersebut. Menurutnya, pemerintah sudah memandang perlu pembelajaran tatap muka, namun harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan dilengkapi fasilitas cuci tangan dengan air mengalir.

Selain itu, keluarnya SKB itu bukan berarti pada tahun ajaran nanti akan dibuka PTM juga disesuaikan kondisinya nanti. “Kan masih beberapa bulan, kalau nanti pas PTM berjalan dan kasus (COVID-19) naik bisa berubah lagi,” kata mantan Direktur Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan itu, di Jakarta, Jumat.

Tjandra meminta masyarakat jangan terlalu gembira dulu melihat laju perkembangan kasus COVID-19 belakangan ini. Sebab, sewaktu menjadi Direktur Organisasi Kesehatan Dunia Wilayah Asia Tenggara (WHO-SEARO), ia pernah merasakan perkembangan kasus COVID-19 di India – dimana ia berkantor di New Delhi, India – yang berubah-rubah secara drastis. “India pernah mengalami kasus harian bertambah hanya 10.000 kasus. Namun beberapa hari kemudian naik 100.000 kasus. Jadi, susah diprediksi,” imbuhnya.

Menurut Dekan Fakultas Pascasarjana Universitas YARSI Jakarta, para orang tua murid tak perlu kawatir meskipun anak-anak belum divaksinasi. Vaksinasi COVID-19 masih dalam taraf uji klinis, sehingga belum bisa diberikan pada tahun ajaran baru nanti. Orang tua tak perlu cemas, kasus penularan COVID-19 pada anak-anak, seperti murid Pendidikan Anak Usia Dini relatif sedikit dibandingkan pada orang dewasa lansia. Kecuali itu, guru-guru mereka  baru boleh mengajar apabila sudah divaksinasi. Meski begitu orang tua diberikan wewenang untuk membolehkan anaknya ikut PTM atau tetap pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Ia berharap vaksinasi COVID-19 harus tetap berjalan, sambil pemerintah mencari solusi terhadap sejumlah negara produsen vaksin melakukan embargo atau ketidakmampuan pabrik vaksin memenuhi komitmennya. “Pemerintah perlu melakukan negosiasi ulang dengan produsen vaksin,” ucapnya. Pemerintah juga diminta tetap memprioritaskan vaksinasi kepada lansia yang rentan terpapar COVID-19.

Selain itu meningkatkan diplomasi, baik dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), membeli langsung, atau melalui hubungan bilateral. Kemudian pemerintah perlu menjajaki pembicaraan  seperti dengan produsen vaksin lain di luar dari produsen atau instansi yang telah membuat komitmen dengan pemerintah, misalnya dengan Johnson & Johnson. Sejauh ini komitmen yang sudah didapat pemerintah, antara lain berasal dari Pfizer, AstraZeneca, Novavax, Moderna, Sinopharm, dan Sinovac.

Pengamat pendidikan Prof Dr Arief Rahman mengatakan sekarang sudah ada beberapa sekolah yang menyelenggarakan PTM. “(Itu) akan dikendalikan juga oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dia (Kemenkes) akan menetapkan berapa jumlah muridnya, lalu jam belajarnya sampai jam berapa. Jadi semua sudah ada panduannya. Ngga ada masalah,” katanya.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Peringati HSN, Ini Bunyi Ikrar Santri Indonesia

Selasa, 19 Oktober 2021 | 15:16 WIB

Simak Filosofi Tema dan Logo Hari Santri Nasional 2021

Selasa, 19 Oktober 2021 | 14:28 WIB
X