Pilih Jenis Wisata Petualangan Mengandung Risiko, Inilah Peran SNI di Era Pasca Covid-19

- Kamis, 8 April 2021 | 22:50 WIB
foto: suaramerdeka/dok
foto: suaramerdeka/dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kegiatan pariwisata terutama jenis wisata petualangan, mendaki gunung misalnya, tidak sedikit kecelakaan yang terjadi hingga sebagian berujung pada hilangnya pendaki dan kematian. Oleh karena itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) berperan dalam meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata baik menyangkut kemudahan dan kenyamanan maupun keamanan dan keselamatan berwisata, khususnya saat memilih jenis wisata petualangan yang mengandung risiko, terutama di era pasca Covid-19.

"Karena, masih banyaknya pendaki yang tidak peduli tentang keselamatan dan kesiapan serta pengetahuan tentang aktivitas pendakian gunung. Belum lagi masalah keberlanjutan kelestarian alam," ujar  Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Kerja Sama dan Layanan Informasi BSN, Zul Amri kepada suaramerdeka.com, Kamis (8/4).

Lebih lanjut Zul Amri menerangkan mulai dari sampah hingga vandalisme pepohonan dan lain-lain, akibat perilaku tidak bertanggung jawab sebagian pendaki yang membuat ketidaknyamanan bagi pengunjung yang lain. Dalam hal ini, Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menerbitkan SNI 8478:2019 Pengelolaan Pendakian Gunung.

"Pengelolaan pendakian gunung yang bertanggung jawab tentu juga menjadi penting untuk menjawab permasalah itu semua. Untuk menuju pengelolaan pendakian gunung yang zero waste dan zero accident. Disitulah SNI ikut berperan," terangnya.

Pada SNI 8013:2014 Pengelolaan Pariwisata Alam juga menjabarkan bagaimana pengelola pariwisata alam harus memenuhi kaidah-kaidah kepuasan, keselamatan dan kenyamanan pengunjung dengan memberikan pelayanan yang prima, memberikan sistem informasi yang memadai bagi pengunjung, dan penyediaan sarana untuk menjamin keselamaran pengunjung.

"Begitu pun dalam SNI 8748 Pengelolaan Pendakian Gunung, aspek kenyamanan, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) begitu ditekankan untuk mewujudkan zero waste dan zero accident," imbuhnya.

Zul Amri menjelaskan bahwa SNI diperlukan untuk memfasilitasi pengelolaan pariwisata. Jika para pengelola baik wisata alam maupun pengelola pendaki gunung ingin dapat mengelola usaha wisatanya agar lebih bertanggung jawab, aman dan nyaman bagi pengunjung.

"Sudah semestinya menjadikan SNI sebagai referensi dan panduan dalam mengelola usaha wisatanya," jelasnya.

Sementara dalam pengembangan SNI, tentunya melibatkan semua pemangku kepentingan, seperti kita tahu bahwa BSN dalam menetapkan SNI harus melalui tahap konsensus, yang melibatkan semua pemangku kepentingan, baik itu regulator, pakar, pelaku usaha dalam hal ini pengelola usaha maupun konsumen.

Halaman:

Editor: Achmad Rifki

Tags

Terkini

X