PTM, Kesiapan Guru Mengajar Daring dan Luring Harus Dimatangkan

- Kamis, 8 April 2021 | 21:31 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, pada akhir Maret lalu. Melalui SKB tersebut, pemerintah berharap agar pembelajaran tatap muka secara terbatas dapat dilakukan mulai tahun ajaran baru 2021/2022, setelah para pendidik tuntas divaksin.

Langkah tersebut diambil untuk menekan adanya learning loss dari peserta didik di Indonesia. Meski demikian, tentu ada hal yang perlu diperhatikan dan disiapkan, sebelum kebijakan tersebut berjalan.

Salah satu penggagas Gerakan Guru Cerdas (Garudas), Indra Charismiadji mengatakan, sangatlah berbahaya jika penyelenggaraan pembelajaran tatap muka secara terbatas di bulan Juli hanya menggantungkan diri pada vaksinasi para pendidik.

Baca Juga: Laju Vaksinasi Diatur Sesuai Pasokan Vaksin, Begini Penjelasan Menkes

"Kita semua wajib optimis bahwa vaksin akan bekerja dengan baik, tetapi kita juga harus siap dengan kemungkinan terburuk," kata dia saat acara peluncuran Garudas yang dilakukan secara daring, Kamis (8/4).

Yang tidak kalah penting adalah kesiapan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Pasalnya, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas menuntut pendidik untuk mengajar dengan dua model secara bersamaan, yaitu daring dan luring.

"Sedangkan kita tahu untuk satu model daring saja para guru sangat kewalahan. Untuk itu mereka harus diberikan pembekalan pedagogi digital dan dibimbing untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan paradigma baru," kata Indra.

Baca Juga: 80,4 Persen Komite-KS SD Sepakat Pembelajaran Tatap Muka

Gerakan Guru Cerdas merupakan bentuk kepedulian bersama dengan tujuan untuk membekali para pendidik di wilayah Provinsi DKI Jakarta untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan paradigma baru. Yakni pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran sekaligus kompetensi dasar/capaian pembelajarannya, memanfaatkan teknologi digital dalam berproses.

Selain itu, untuk memberikan menu yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik sesuai dengan minat/bakatnya, dan  menumbuhkan karakter yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, mandiri, gotong-royong, bernalar kritis, komunikatif, kreatif, memahami kebhinekaan dan berwawasan global.

Gerakan ini diinisiasi dan merupakan kolaborasi dari Center for Education Regulations & Development Analysis (CERDAS), Vox Populi Institute Indonesia, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dan Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, yang didukung oleh mitra-mitra seperti Epson, Microsoft, Link Net, Rumah Juara, dan Pandi.id.

Dikatakan Indra, yang juga praktisi pendidikan itu, selama PJJ berlangsung, pihaknya sudah berhasil mentransformasi banyak sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran dengan paradigma baru. Sehingga Learning Loss yang sering disebut oleh Kemendikbud dapat diubah menjadi Learning Gain.

"Bukti sudah banyak, bisa dilihat di channel YouTube Pendidikan Vox Point, tinggal sekarang diduplikasi secara terstruktur, masif, dan sistematis di satu provinsi yang kebetulan tidak ada kendala dengan jaringan,"

Diharapkan, semua proses untuk membentuk paradigma baru bagi para guru dapat berjalan dengan lancar. "Semua ini demi generasi penerus bangsa. Pandemi tidak pandemi mereka tetap harus dididik dengan baik dan sesuai dengan zamannya. Kalau Kemendikbud tidak bergerak, kami harus proaktif melakukan perubahan. Jika di DKI sukses, maka akan diimplementasikan di daerah-daerah lain," imbuh Indra.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana menjelaskan, para guru disiapkan untuk menghasilkan beraneka ragam portofolio siswa. "Mereka (para guru)akan mendapatkan sertifikat pelatihan selama 96  jam pertemuan dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta," ujarnya.

Sementara itu, Nur Pawaidudin, Kabid Madrasah Kanwil Kemenag DKI Jakarta mengungkapkan, gerakan ini sangat terbuka dan transparan, siapapun pendidik di wilayah DKI Jakarta dapat ikut serta baik di madrasah maupun sekolah.

"Ini merupakan gerakan bersama, sehingga tidak membebani pihak manapun baik dari segi anggaran, waktu, maupun energi, karena seluruhnya dilaksanakan secara daring dan sangat fleksibel,” tambah 

Lebih lanjut Indra menjelaskan, berdasarkan pengalaman yang sudah pernah dilakukan, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk bisa mengubah mindset dan kebiasan para guru.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

7 Fakta Meninggalnya Ameer Azzikra, Adik Alvin Faiz

Senin, 29 November 2021 | 18:55 WIB
X