Gencarkan Sosialisasi Evakuasi Akibat Siklon Tropis

- Rabu, 7 April 2021 | 13:15 WIB
Foto dokumentasi
Foto dokumentasi

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Beberapa daerah di Indonesia memiliki peluang terdampak siklon tropis seperti yang saat ini melanda Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Karena itu perlu digalakkan sosialisasi terkait bencana akibat siklon, di samping upaya lain seperti memperkuat konstruksi bangunan, membuat prosedur darurat, hingga meningkatkan penelitian tentang prediksi siklon untuk mengurangi dampak bencananya.

''Di Indonesia, evakuasi karena bencana angin kencang dan storm surge belum umum dilakukan, tetapi dalam rangka mitigasi dan adaptasi, sebaiknya sudah mulai dikenalkan mengingat proyeksi peningkatan suhu muka laut ke depan akan menyebabkan peningkatan peluang terjadinya siklon tropis,'' papar peneliti Fakultas Geografi UGM, Dr Emilya Nurjani, di kampusnya, kemarin.

Baca Juga: Hendi: Mitigasi Bencana Jadi Isu Penting

Baca Juga: Bencana Siklon Tropis Tinggi, Pakar: Pengetahuan Bencana Sebaiknya Disosialisasikan

Wilayah Indonesia, menurutnya, memiliki peluang terdampak siklon tropis dengan level bencana yang berbeda. Siklon tropis di perairan selatan Indonesia akan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi daerah pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dibandingkan pesisir timur Sumatera atau pesisir Kalimantan.

Siklon tropis di utara Indonesia akan menimbulkan hujan yang lebih lebat di sekitar Sulawesi dan Kalimantan, sehingga bencana yang ditimbulkan untuk setiap daerah juga akan berbeda. Pengetahuan bencana sebaiknya disosialisasikan di seluruh daerah di Indonesia sesuai dengan potensi bahaya yang ada di daerah masing-masing.

Cuaca Ekstrem

Emilya menjelaskan, siklon tropis 99S yang terbentuk di sekitar Laut Sawu mengakibatkan cuaca ekstrem di Pulau Timor merupakan bentuk formasi dari sistem badai tropis yang besar dan berkembang di atas perairan hangat dekat wilayah ekuator. Pertumbuhan siklon membutuhkan uap air hangat yang tersedia di wilayah antara 5-30 derajat di lintang utara dan lintang selatan bumi, serta efek coriolis yang merupakan implikasi dari gerak rotasi Bumi pada sumbunya.

Baca Juga: Siklon Tropis Seroja Menjauh, BMKG Prakirakan Cuaca Membaik Setelah Tanggal 7 April

Efek Coriolis menyebabkan angin mengalami pembelokan pergerakannya. Makin besar lintangnya, makin besar pembelokan angin yang terjadi, sehingga di daerah ekuator atau lintang nol efek tersebut tidak ada.

Pertumbuhan siklon dimulai dari gangguan tropis, depresi tropis, badai tropis, dan kemudian menjadi siklon tropis. Pada saat pertumbuhan mencapai badai tropis itulah siklon mulai dinamai.

''Pada kondisi siklon tropis kecepatan angin mencapai 64 knot atau 74 meter per jam, dampak yang ditimbulkan berupa hujan yang lebat, angin kencang, serta gelombang laut yang besar atau storm surge.

Beberapa penelitian menyebutkan wilayah terdampak sampai 50/km dari pusat siklon,'' jelasnya.

Ia menilai peluang terbentuk siklon di Indonesia sebenarnya cukup kecil, karena suhu permukaan laut cukup rendah dan efek coriolis pun relatif kecil. Meski demikian dalam beberapa tahun terakhir siklon semakin sering terbentuk, terutama pada periode transisi dari musim penghujan ke musim kemarau atau musim kemarau ke musim penghujan. Hal ini ditengarai terjadi akibat perubahan iklim yang meningkatkan suhu permukaan laut.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Atlet Program Semarang Emas Jalani Tes Fisik

Minggu, 28 November 2021 | 13:41 WIB

Banjir Bandang di Garut, 21 Rumah Rusak

Minggu, 28 November 2021 | 08:42 WIB

Rais Aam PBNU Putuskan Muktamar 17 Desember

Jumat, 26 November 2021 | 23:03 WIB
X