Dampak Buruk Pernikahan Dini, Tantangan Sulit Sekolah

- Rabu, 7 April 2021 | 12:00 WIB

 JAKARTA, suaramerdeka.com – Pemerintah dan sejumlah pihak terus mengencarkan sosialisasi larangan pernikahan usia dini mengingat dampak buruk dampak buruk yang memengaruhi psikis anak hingga jangka panjang. Kondisi ini harus dicegah sedini dan sesegera mungkin untuk menyelematkan generasi mendatang, kendati tantangan ini diakui sulit.

Anggota Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Bela Yugi Fazny mengakui perkawinan anak usia dini menjadi tantangan besar  dan sulit. Pengedukasian mengenai Kesehatan Seksual dan Reproduksi (Kespro) perlu disampaikan dan mendapat perhatian dari pihak sekolah.

"Perihal edukasi kespro di wilayah pendidikan sebenarnya juga sudah menjadi program kerja Bimbingan Konseling. Namun memang tantangan terberatnya karena masih banyak yang beranggapan tabu dalam memahami pemaknaan kespro," tandas Bela di Jakarta.

Baca juga: Pernikahan Dini Picu Anak Stunting, Begini Penjelasan Kepala BKKBN

Senada Wakil Ketua Gerakan Nasional Anti-Narkoba Majelis Ulama Indonesia Pusat, Latri M Margono mengingatkan perkawinan pada usia dini menyebabkan sejumlah problem sosial, ekonomi, dan politik yang membawa persoaln komplkes jangka panjang.

"Pertama, perkawinan anak salah satu penyebab tingginya jumlah perceraian. Kedua, perkawinan anak berdampak pada kualitas SDM. Ketiga, perkawinan anak pemicu sikap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Keempat, perkawinan anak menyebabkan berbagai masalah kesehatan," kata Latri di Jakarta, Minggu (4/4).

Latri yang juga Anggota Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menuturkan, perkawinan membutuhkan kedewasaan dan kematangan yang bukan hanya bersifat biologis melainkan aspek psikologis, sosial, mental, dan spiritual. Untuk itu, upaya mengedukasi masyarakat dalam mengenali penyebab munculnya dampak buruk dari perkawinan anak perlu disosialisasikan utamanya lewat kajian-kajian khusus perempuan.

Baca juga: Perguruan Tinggi Didorong Bantu Penanganan Stunting di Indonesia

"Misalkan diperlukan pendidikan seks yang komprehensif sejak tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menekankan pada aspek kesehatan reproduksi juga tanggung jawab moral dan sosial," tutur Koordinator Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) itu.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X