Bencana Siklon Tropis Tinggi, Pakar: Pengetahuan Bencana Sebaiknya Disosialisasikan

- Rabu, 7 April 2021 | 10:36 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com – Sejumlah wilayah Indonesia memiliki peluang terdampak siklon tropis dengan level bencana berbeda-beda baik di perairan Selatan Indonesia maupun perairan Utara Indonesia. Siklon tropis di perairan selatan Indonesia akan menimbulkan dampak lebih besar bagi daerah pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Namun dampak itu berbeda dari pesisir Timur Sumatera atau pesisir Kalimantan. Sementara itu, siklon tropis di Utara Indonesia akan menimbulkan hujan lebih lebat di sekitar Sulawesi dan Kalimantan sehingga bencana yang ditimbulkan untuk setiap daerah juga akan berbeda.

“Pengetahuan bencana sebaiknya disosialisasikan di seluruh daerah di Indonesia sesuai dengan potensi bahaya yang ada di daerah masing-masing,” kata peneliti Fakultas Geografi UGM, Dr Emilya Nurjani yang menyebut berbagai daerah di Indonesia memiliki peluang terdampak siklon tropis seperti yang saat ini melanda sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Dampak Siklon Tropis Seroja Akibatkan 8.000 Warga Mengungsi

Oleh karena itu, dia meminta semua pihak terkait menggalakkan sosialisasi terkait bencana yang ditimbulkan oleh siklon. Selain itu, memperkuat konstruksi bangunan, membuat prosedur darurat, hingga meningkatkan penelitian tentang prediksi siklon untuk mengurangi dampak bencana alam itu.

Di Indonesia bencana angin kencang dan storm surge belum umum dilakukan, tetapi dalam rangka mitigasi dan adaptasi, sebaiknya sudah mulai dikenalkan mengingat proyeksi peningkatan suhu muka laut ke depan akan menyebabkan peningkatan peluang terjadinya siklon tropis.

Emilya menjelaskan, siklon tropis 99S yang terbentuk di sekitar Laut Sawu yang mengakibatkan cuaca ekstrem di Pulau Timor merupakan bentuk formasi dari sistem badai tropis yang besar dan berkembang di atas perairan hangat dekat wilayah ekuator. Pertumbuhan siklon membutuhkan uap air hangat yang tersedia di wilayah antara 5-30 derajat di Lintang Utara dan Lintang Selatan bumi, serta efek coriolis yang merupakan implikasi dari gerak rotasi Bumi pada sumbunya.

Baca juga: BMKG: Bibit Siklon Tropis Pengaruhi Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan

“Efek Coriolis ini menyebabkan angin mengalami pembelokan pergerakannya. Makin besar lintangnya maka makin besar pembelokan angin yang terjadi sehingga di daerah ekuator atau lintang nol efek ini tidak ada,” katanya.

Pertumbuhan siklon dimulai dari gangguan tropis, depresi tropis, badai tropis, dan kemudian menjadi siklon tropis. Pada saat pertumbuhan mencapai badai tropis sehingga dinamakan siklon tropis. Pada kondisi siklon tropis, kecepatan angin mencapai 64 knot atau 74 meter per jam. Dampak yang ditimbulkan berupa hujan yang lebat, angin kencang, serta gelombang laut yang besar atau storm surge.

“Beberapa penelitian menyebutkan wilayah terdampak sampai 50/km dari pusat siklon,” kata Emilya yang mengungkapkan peluang terbentuk siklon di Indonesia sebenarnya cukup kecil karena suhu permukaan laut wilayah Indonesia cukup rendah dan efek coriolis pun relatif kecil.

Baca Juga: BMKG: April 2021, Hujan Lebat Disertai Angin Puting Beliung Masih Terjadi

Meski demikian dalam beberapa tahun terakhir siklon semakin sering terbentuk, terutama pada periode transisi dari musim penghujan ke musim kemarau atau musim kemarau ke musim penghujan. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat perubahan iklim yang meningkatkan suhu permukaan laut. “Di perairan selatan dan utara Indonesia cukup banyak siklon terbentuk, dalam setahun bisa 5-8 siklon dengan kecepatan yang berbeda dan dampak yang berbeda,” katanya.

Sejak adanya Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC), kata dia, deteksi dini siklon telah dilakukan dengan baik. Bibit siklon sudah dapat dideteksi menggunakan citra satelit ataupun radar pada saat bibit siklon terbentuk dengan tingkat perkembangan sebagai gangguan tropis.

Arah pergerakan dan kecepatannya pun bisa dideteksi sehingga bisa diperkirakan waktu serta kecepatan siklon tersebut tiba di daratan untuk sistem mitigasi. Namun, meski prediksi siklon bisa dilakukan, masih ditemukan kesulitan karena beberapa siklon terkadang berbalik arah. Di samping itu, kesiapan mitigasi setiap daerah berbeda-beda. “Perlu kerja sama yang lebih solid lagi antara BMKG yang punya early warning dan Pemda yang melaksanakan mitigasi di daerah masing-masing,” kata Emilya.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Target 8 Kursi, PKB Kota Semarang Gelar Evaluasi

Minggu, 26 September 2021 | 19:45 WIB

CSIS: Komunikasi Politik Airlangga Hartarto Kuat

Minggu, 26 September 2021 | 17:40 WIB
X