Muhammadiyah: Sertifikasi Penceramah untuk Perkuat Kesadaran Kebangsaan

- Sabtu, 3 April 2021 | 19:45 WIB
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sekum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan, bahwa sertifikasi bagi para penceramah hanya untuk peningkatan kualitas dan memperkuat kesadaran kebangsaan. Jadi, kata Abdul Mu'ti, kepemilikan sertifikat tidak seharusnya menjadi persyaratan bagi seseorang boleh memberikan ceramah.

Baca juga: AHY Bertemu Ketum PP Muhammadiyah, Ini Hasilnya

Ditambahkannya, pemerintah bisa melakukan program sertifikasi penceramah, namun tidak bisa diwajibkan. Pasalnya, seperti diketahui, Kementerian Agama (Kemag) menggagas program dai dan penceramah bersertifikat namun menuai polemik.

Dijelaskannya, jika sertifikat menjadi persyaratan, maka bisa menjadi kendala dan hambatan kegiatan keagamaan. Sedangkan pada kelompok masyarakat Indonesia yang religius, banyak sekali acara sosial yang diisi ceramah keagamaan mulai dari pernikahan, kelahiran, kematian, dan berbagai acara lainnya.

“Ceramah keagamaan tidak terbatas pada acara ritual agama. Selain itu, soal penceramah lebih banyak terkait dengan preferensi, bukan sertifikasi,” kata Abdul Mu'ti, seperti yang dikutip dari Berita Satu, Sabtu, 3 April 2021.

Dikatakan Mu’ti, beberapa kalangan yang terpapar ekstremisme kekerasan lebih banyak dipengaruhi oleh internet. Mereka mempelajari agama tanpa bimbingan guru agama dan orang tua.

Oleh karena itu, kata dia, hal yang lebih penting adalah bagaimana mengisi konten agama dan keagamaan yang moderat di internet dan membangun konter narasi secara elegan dan cerdas. Pasalnya, Mu’ti menilai, publikasi keagamaan kelompok atau tokoh moderat di internet masih terbatas, bahkan tertinggal dibandingkan kelompok ekstrem.

Sebelumnya, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menilai dai yang berasal dari organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun swasta tak perlu mengikuti program sertifikasi penceramah sebelum melakukan kegiatan dakwah.

Hal itu ia sampaikan merespons kontroversi program sertifikasi penceramah yang akan digelar Kementerian Agama pada September 2020 yang lalu.

"Bagi penceramah dari ormas atau penceramah swasta tidak usah punya sertifikat," kata Dadang, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia.

Dijelaskannya bahwa penceramah yang memiliki latar belakang ormas keagamaan tertentu pasti berpandangan bahwa kegiatan dakwah dan ceramah kepada umat merupakan suatu panggilan agama. Ia pun menyatakan penceramah itu hanya menyampaikan pengetahuan keagamaan kepada orang lain sebagai perintah yang diajarkan dalam agamanya masing-masing.

"Untuk saling menasihati atau berwasiat dalam kebenaran," terangnya.

Halaman:
1
2

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Sempat Jadi Sultan, Warga Kampung Miliarder Kini Galau

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:55 WIB

RK: Kita Tak Pernah Merencanakan Pembangunan Ibukota

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:42 WIB
X