Tahun Ini Kemungkinan Haji Ifrad, Ini Penjelasan Menag Yaqut

- Jumat, 2 April 2021 | 10:36 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengakui pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan dengan adanya pembatasan, termasuk dalam kegiatan keagamaan yang bersifat massal. Aturan ini berdampak pada skema penyelenggaraan haji 1442 Hijriah, tahun ini.

"Pembatasan juga terjadi dalam penyelenggaraan haji dan umrah sejak tahun lalu. Itu bisa menjadi pelajaran dalam persiapan, jika haji dibuka tahun ini," ujar Menag Yaqut. Untuk itu, Menag meminta skenario penyelenggaraan haji tahun ini harus dibahas bersama dalam muzakarah. Perlu kajian hukum, termasuk pola manasiknya agar bisa segera disosialisasikan.

Menag Yaqut mengungkapkan selama ini jamaah haji Indonesia mayoritas melaksanakan haji tamattu' (melaksanakan ibadah umrah dulu, baru kemudian melaksanakan ibadah haji). Namun, kata Gus Yaqut, jika jamaah haji Indonesia tahun ini diizinkan berangkat ada skema karantina saat jamaah haji tiba memasuki Tanah Suci.

Baca juga: Heboh Kuota Haji 30 Persen, Begini Klarifikasi Konsul Haji KJRI Jeddah

Dengan skema demikian, Menag mengatakan haji tahun ini dilaksanakan bukan lagi haji tamattu melainkan haji Ifrad (berhaji terlebih dadulu baru melakukan ibadah umrah). Untuk itu, Menag meminta jamaah haji juga menyiapkan mental sejak dini karena dimungkinkan adanya perubahan skema penyelenggaraan haji di tengah pandemi yang belum menentu ini.

Untuk itu, seluruh jajaran di Kemenag bekerja maksimal agar jamaah mendapat pengetahuan yang komprehensif dan memersiapkan haji dengan matang. "Jangan sampai beda-beda pemahaman. Tugas berat Pak Dirjen, selain menyiapkan mitigasi juga menata pemahaman. Selamat bermuzakarah. Saya harap ada rumusan solusi atas setiap potensi masalah yang ada," tandasnya.

Sementara itu Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Ramadhan Harisman menambahkan penerapan protokol kesehatan menjadi bagian dari ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan haji di masa pandemi. Salah satunya terkait pemeriksaan swab PCR.

Baca juga: Ini 6 Skenario Haji 2021, Menag Minta Jamaah Siap Mental

"Jika Saudi mengizinkan keberangkatan haji Indonesia, maka setidaknya jamaah akan melakukan tiga kali swab PCR," jelasnya. Swab PCR pertama, kata Ramadhan, dilakukan paling lambat 2x24 jam sebelum terbang ke Arab Saudi. Kedua, swab PCR dilakukan saat tiba di Arab Saudi. "Terakhir, swab PCR dilakukan lagi jelang pulang ke Tanah Air," kata Ramadhan.

Selain swab PCR, jamaah harus melakukan swab antigen menjelang masuk asrama haji. Sebab, jamaah saat akan masuk asrama harus membawa bukti negatif hasil swab antigen. Selain itu, petugas haji 2021 wajib divaksinasi. Untuk itu, Kemenag telah berkoordinasi dengan Kemenkes terkait vaksinasi jamaah haji yang sudah melunasi biaya haji 2020.

"Alhamdulillah, jamaah yang sudah melunasi biaya haji 2020 dan usianya di atas 60 tahun, sudah masuk prioritas vaksinasi untuk kategori lansia. Targetnya 31 Maret, dua kali dosis vaksin sudah disuntikkan ke jamaah," ujarnya.

Bagaimana dengan jamaah yang sudah melunasi biaya haji 2020 dan usianya di bawah 60 tahun? Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kemenkes, kata Ramadhan, mereka akan masuk kategori rentan, mengingat mereka akan melakukan perjalanan jauh ke luar negeri. "Insya Allah jamaah yang sudah melunasi biaya haji 2020 akan divaksin dan dijadwalkan pada akhir Mei semua sudah divaksinasi," tandasnya.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X