Game Online Bisa Picu Depresi hingga Bunuh Diri

- Minggu, 28 Maret 2021 | 01:07 WIB
SM/ Maulana M Fahmi : HINDARI KECANDUAN GAME ONLINE : Seorang anak bermain game online melalui gadget di rumahnya, kemarin. Orang tua harus melakukan pengawasan untuk menghindari anak kecanduan internet dan game online selama pandemi.
SM/ Maulana M Fahmi : HINDARI KECANDUAN GAME ONLINE : Seorang anak bermain game online melalui gadget di rumahnya, kemarin. Orang tua harus melakukan pengawasan untuk menghindari anak kecanduan internet dan game online selama pandemi.

Game online di satu sisi menjadi hiburan, namun di sisi lain ternyata dapat membawa dampak yang kurang baik, salah satunya menyebabkan kecanduan. Kecanduan tersebut bahkan menyebabkan hal yang sangat berbahaya. Empat pasien anak yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr Amino Gondohutomo Pedurungan Semarang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Direktur RSJD Dr. Amino Gondohutomo, Alek Jusran menerangkan, hingga saat ini empat pasien anak tersebut di antaranya berasal dari Semarang dan Grobogan. Hingga saat ini mereka masih menjalani rawat inap dan belum diperbolehkan pulang ke rumah. “Untuk yang rawat inap ada tiga pasien anak yang berasal dari Semarang dan satu pasien dari daerah Grobogan. Sampai saat ini mereka masih perlu dirawat inap dan tak boleh dibawa pulang,” ujar Jusran, saat dihubungi Suara Merdeka, Kamis (25/3). Ia menerangkan, setelah ditelusuri ternyata mereka memang kecanduan game online. Mereka depresi karena sering mendapat bullying atau perundungan dari komunitas bermain game online. Akhirnya ketika bermain game, mereka takut kalah, karena kalau selalu mendapat perundungan. Hingga akhirnya, pasien anak tersebut muncul pemikiran ingin mati saja. Menurutnya, hal itu menjadi ancaman jika anak tersebut benar-benar ingin bunuh diri. Untuk itu pasien anak tersebut memang harus dipondokkan untuk mendapatkan perawatan. Biasanya awal masuk di RSJ, mereka diberi obat penenang.

Kemudian dilanjutkan psikoterapi untuk mengubah perilaku dan cara pandang mereka “Setelah tenang, mereka kami ajak diskusi. Mereka kami beri pengertian bahwa setiap orang pasti punya banyak teman dan tetangga yang positif dan negatif, namun tidak semua orang memiliki niat untuk berbuat jahat. Jadi kita harus bisa memilah dan memilih mana yang serius dan mana yang guyonan,” imbuhnya.

Daring

Pasalnya, dalam kurun waktu satu tahun selama pandemi ini, terutama untuk sekolah memang masih libur dan pembelajaran dilakukan secara daring. Jadi memang selama pandemi ini mendukung anak untuk bermain game online, karena waktu mereka lebih banyak di rumah dan bermain gadget. Dari situlah kemudian mereka bermain game online hingga pada satu titik mereka tak bisa mengendalikan, akibatnya selama 24 jam di rumah saja mereka selalu dituntut untuk bermain game online. “Hal ini sangat berpotensi membuat anak terjebak dalam lingkungan game online. Apalagi mereka menikmati game online tersebut secara berlebihan,” ungkapnya. Untuk itu, Jusran berpesan kepada orang tua untuk lebih menjalin kedekatan dengan anaknya. Jadi selama pandemi ini sebagai tanggung jawab guru, sekarang ini memang harus dipasrahkan orang tua.

Artinya orang tua harus bisa menyesuaikan. Perubahan sikap akibat game online dirasakan Firman orang tua Sf (17). Anaknya dulu dikenal sebagai anak yang mudah bergaul dan tidak pernah menolak untuk dimintai bantuan orangtua berjualan. Semenjak mengenal game online mobile setahun yang lalu dirinya kini lebih sering menyendiri di kamar dan sering tidur hingga larut malam. Sementara itu menurut dr Susi Rutmalem Bangun MSc SpKJ (K), seseorang yang mengalami adiksi (suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhatap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya), struktur dan fungsi otaknya berubah. Terutama bagian pusat kognitif yang disebut prefrontal cortex. ‘’Gangguan pada otak tersebut mengakibatkan orang yang mengalami ketergantungan atau kecanduan kehilangan beberapa kemampuan otaknya. Antara lain fungsi atensi, eksekutif, dan fungsi inhibisi,’’ ujarnya saat ditemui di kantornya, kemarin. Dokter spesialis kedokteran jiwa konsultan kesehatan jiwa anak dan remaja di RSJ Prof Dr Soerojo Magelang ini menuturkan, apabila fungsi atensi berkurang, berarti seseorang tidak bisa memusatkan perhatian pada sesuatu hal. Lalu fungsi eksekutif, berarti tidak bisa merencanakan dan melakukan tindakan, serta fungsi inhibisi yang berarti tidak bisa mengontrol atau membatasi diri. (Pamungkas Suci Ashadi, Khabib Zamzami, Asef F Amani)

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X