Kuota PPPK Guru Madrasah Minim, NU Singgung Ketidakadilan

- Jumat, 19 Maret 2021 | 06:15 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Wakil Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Aris Adi Leksono mengatakan sejak Pemerintah meluncurkan kebijakan pengangkatan guru dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun 2020, hingga kini belum ada titik terang langkah teknis, khususnya untuk guru madrasah.

Kebijakan awal kuota guru agama di bawah binaan Kementerian Agama baik di sekolah dan madrasah, kata Aris, hanya 9.464 orang dari 1 juta kuota. Karenanya, Pergunu mendesak pemerintah bersikap adil dalam memberikan kuota PPPK tersebut, terutama untuk guru madrasah.  Guru madrasah perlu mendapat perhatian mengingat mereka memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan pendidikan di Indonesia," katanya.

Pergunu mengingatkan Pemerintah, dalam hal ini Menpan RB, Kemendikbud, dan lainnya agar memperhatikan guru madrasah berstatus honorer untuk diberikan afirmasi kuota yang lebih. Jumlah guru madrasah saat ini kurang lebih 700 ribu. Dari angka itu, 580 ribu lebih berstatus non-PNS. Belum jumlah guru agama honorer di sekolah, yang jumlahnya juga banyak.  

Baca juga: Soal Rekrutmen PPPK, Kemendikbud Dituding Diskriminatif pada Guru Madrasah

"Kalau awalnya cuma sembilan ribuan, mestinya ratusan ribu. Kuota itu jauh dari jumlah kuota nasional. Guru madrasah juga berjasa, mereka tahunan mengabdi tanpa pamrih, di pelosok desa, di pedalaman, bagaimana mungkin kuota PPPK untuk mereka tidak sampai 1 persen dari kuota nasional," kata Aris, Selasa (16/3) di Jakarta.

Melihat fakta dan data ini, sudah seharusnya pemerintah memberikan kesempatan lebih untuk guru agama di madrasah dan sekolah untuk mengikuti formasi PPPK. "Wajib pemerintah menambah kuota PPPK untuk guru madrasah, jumlahnya honorernya lebih dari 80 persen. Kebangetan dari 580 ribuan guru agama honorer madrasah hanya diberi kuota tidak sampai satu persen. Belum guru agama di sekolah," tegas Aris.

Aris menggarisbawahi madrasah dengan guru agama di dalamnya, adalah peletak ciri khas pendidikan di Indonesia sejak masa pendidikan kolonial. Keberadaannya mampu mewujudkan generasi bangsa yang tergambar dalam tujuan sistem pendidikan nasional. Yaitu, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Editor: Andika

Tags

Terkini

Peringati HSN, Ini Bunyi Ikrar Santri Indonesia

Selasa, 19 Oktober 2021 | 15:16 WIB

Simak Filosofi Tema dan Logo Hari Santri Nasional 2021

Selasa, 19 Oktober 2021 | 14:28 WIB
X