Gus Yahya: Posisi Indonesia Sangat Strategis Wujudkan Stabilitas Dunia

- Rabu, 10 November 2021 | 21:12 WIB
KH Yahya Cholil Staquf (ketiga kiri) di Universitas Pertahanan. (suaramerdeka.com/dok)
KH Yahya Cholil Staquf (ketiga kiri) di Universitas Pertahanan. (suaramerdeka.com/dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam upaya membentuk stabilitas dan tatanan dunia ke depan.

Potensi besar ini sudah saatnya disadari dan dikelola dengan baik agar Indonesia bisa semakin kuat di mata dunia internasional.
 
Hal tersebut disampaikan Gus Yahya, sapaan Katib Aam PBNU itu saat memberi kuliah umum di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 10 November 2021.

Kuliah umum ini mengambil tema ‘Kontribusi Perjuangan Pahlawan Santri Ditinjau dari Perspektif Sosio-Cultural dan Kontekstualisasi Semangat Persatuan dan Rela Berkorban di Era Digital’.

Baca Juga: Vaksin Booster Covid-19, Apakah Tubuh Kita Membutuhkannya?

Gus Yahya menjelaskan, di tengah memanasnya hubungan antar sejumlah negara di kawasan saat ini, tatanan dunia sejatinya tengah menuju titik keseimbangan (equilibrium) baru.
 
“Karena letaknya yang sangat strategis dalam menjaga stabilitas, maka dunia internasional menginginkan Indonesia menjadi negara yang kuat, bukan hanya di regional tapi juga di kawasan Indo-Pasifik,” kata kandidat Ketua Umum PBNU itu.
 
Dalam kaitan itu, maka dunia internasional pun sangat berkepentingan dengan Indonesia agar menjadi negara kuat dan stabil, serta jauh dari gejolak.

Tatanan dunia saat ini, ujar Gus Yahya, belum bisa disebut stabil apalagi kokoh. Indikasinya gejolak secara sporadis masih mudah terjadi di sejumlah negara.  

Baca Juga: Raih Popularitas Tertinggi, Kim Seon Ho Masih Diragukan Hadiri Asia Artist Awards 2021

Pemicunya pun susah untuk dijelaskan. Gejolak-gejolak itu akan terus terjadi karena tatanan dunia saat ini memang baru dibangun.
 
“Hingga sejumlah bangsa mulai muak dengan penjajahan dalam segala bentuknya. Mereka mulai berani berteriak, melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan."

"Perlawanan itu perlahan tapi pasti muncul di sejumlah negara jajahan. Termasuk bangsa Indonesia kala akhirnya merdeka pada 1945 lalu," kata mantan anggota Wantimpres itu.
 
Bahkan para pendiri bangsa tidak hanya menginginkan Indonesia merdeka. Tetapi lebih dari itu adalah seluruh bangsa di dunia harus merdeka dari kolonialisme dan imperialisme.

Baca Juga: 253 Anggota Pramuka Kota Semarang Mendapat Anugerah Pramuka Garuda

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sempat Jadi Sultan, Warga Kampung Miliarder Kini Galau

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:55 WIB

RK: Kita Tak Pernah Merencanakan Pembangunan Ibukota

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:42 WIB
X