Vaksinasi Mandiri Bisa Pakai Sputnik V

Red
- Kamis, 4 Maret 2021 | 01:17 WIB

JAKARTA, suaramerdeka.com - Vaksin Sputnik V dari Rusia akan segera masuk ke Indonesia. Vaksin diusulkan sebagai salah satu pilihan vaksinasi Covid-19 secara mandiri. Saat ini, vaksin Sputnik V masih dalam proses pengujian. ”Masih dalam proses pengujian dan pengkajian, sama dengan vaksin-vaksin lainnya,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro, Rabu (3/3). Meski demikian, Reisa mengatakan, belum ada rencana vaksin Sputnik V masuk dalam waktu dekat. Hal senada disampaikan Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito. Dia mengatakan, vaksin dalam proses registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara itu, Direktur PT Putra Cakra Rejeki Sitti Aisyah menyatakan, vaksin Sputnik V akan masuk menjadi salah satu vaksin mandiri di Indonesia. Pihaknya segera melakukan pertemuan dengan pemerintah terkait hal itu.

”Sputnik V akan menjadi salah satu yang akan masuk dalam daftar vaksin mandiri di Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, perwakilan Sputnik Vdalam hal ini PT Putra Cakra Rejeki di Indonesia akan bertemu pemerintah dalam rangka pembahasan rencana tersebut dan akan memfasilitasi semua kepentingan pemerintah Indonesia,” kata Sitti Aisyah dalam keterangan tertulis.

Dia juga menyebut, pihaknya tengah berkoordinasi ke beberapa pihak terkait. Ini dilakukan untuk memenuhi persyaratan Spuntik Vmasuk ke Indonesia. ”Termasuk berkoordinasi dengan Kadin untuk menentukan partner industri farmasi yang paling memenuhi persyaratan untuk meregistrasikan Sputnik V di Indonesia dengan mematuhi seluruh ketentuan regulasi di Indonesia,” tuturnya.

Efikasi 91,6%

Sebelumnya, hasil uji klinis fase 3 menunjukkan vaksin Covid-19 Sputnik V memiliki efikasi 91,6% terhadap infeksi korona. Peneliti mengatakan, hasil ini sejalan dengan data kemanjuran yang dilaporkan pada tahap awal uji coba yang telah dimulai di Moskow, September 2020. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 19.866 peserta, sebanyak 14.964 peserta menerima dua dosis vaksin dan 4.902 peserta diberi plasebo (dalam wujud obat kosong). Tiga pekan setelah peserta menerima dosis vaksin pertama, sebanyak 14 kasus gejala Covid-19 terkonfirmasi dalam kelompok vaksin. Kemudian 62 kasus ditemukan pada kelompok plasebo. Hal tersebut setara dengan efektivitas vaksin yang mencapai 91,6 persen. Uji coba itu melibatkan 2.144 peserta yang berusia di atas 60 tahun dan subanalisis yang dilakukan pada kelompok ini mengungkapkan, vaksin dapat ditolerir dengan baik dan memiliki tingkat keefektivitasan setara dengan 91,8 persen.

Vaksin yang dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow itu, diproduksi dengan dukungan Russian Direct Investment Fund. Beberapa negara juga telah menyetujui penggunaan Sputnik V, yakni Rusia, Belarusia, Serbia, Argentina, Bolivia, Aljazair, Venezuela, Paraguay, Turkmenistan, Hongaria, UEA, Iran, Guinea, Tunisia, Armenia, dan Palestina.

Sputnik V dibuat dari DNA adenovirus SARS-CoV-2. Sebagian patogen virus yang telah dilemahkan tersebut, diambil untuk menstimulasi respons imun. Direktur Pusat Penelitian Nasional Gamaleya Alexander Gintsburg mengatakan, partikel virus korona dalam vaksin tidak membahayakan karena tidak dapat berkembang biak. Dalam laporan uji klinis vaksinasi, tidak ada efek samping serius yang dilaporkan. Mayoritas efek samping yang dilaporkan ringan, seperti nyeri di tempat suntikan, gejala seperti flu, dan kelelahan. Salah satu keuntungan dari vaksin adenoviral yang digunakan sebagai metode pembuatan vaksin ini adalah tidak perlu disimpan dan diangkut dalam suhu sangat dingin. Harga Sputnik V juga cukup terjangkau, yakni 10 dolar AS atau Rp 142 ribu/dosis. Vaksinasi massal di Rusia juga sudah dimulai sejak Desember 2020 di Kota Moskow. Sasaran vaksinasi pertama, orang-orang paling berisiko, termasuk tenaga medis dan guru. Sputnik V sejauh ini juga telah diberikan kepada lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia. (dtc,cnn ind-41)

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X