Bicara Kemandirian, Menristek Singgung 90 Persen Bahan Baku Obat Impor

- Kamis, 4 Maret 2021 | 12:00 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com – Satu tahun virus SARS Cov-2 masuk ke Indonesia menjadi momentum kebangkitan kemandirian riset dan inovasi Tanah Air. Kata kunci untuk melawan pandemic Covid-19 adalah kolaborasi. Nah, Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 merupakan hasil kolaborasi dari berbagai kementerian, lembaga, perguruan tinggi serta industri dengan Kemenristek/BRIN.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/ BRIN), Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro mengatakan untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam menghadapi pandemi Covid 19, terdapat dua hal penting yang harus ada yaitu talenta dan rasa. Berkat kedua poin penting itu maka satu per satu alat kesehatan sudah mulai diproduksi di dalam negeri.

“Selain kemampuan secara intelektual, adanya rasa ingin terbebas dari ketergantungan akan produk alat kesehatan yang berasal dari impor juga sangat penting,’’ kata Menristek Bambang Soemantri pada peringatan 1 tahun pandemi Covid-19 di Indonesia pada Selasa (2/3).

Baca juga: Kemristek Dorong Kegiatan UGM untuk Mengembangkan Alat GeNose

Bambang menegaskan Indonesia sangat membutuhkan vaksin untuk membentuk kekebalan tubuh sehingga tidak mudah terjangkit Covid 19. Tapi menurutnya, saat ini Indonesia masih tergantung pada vaksin impor dan belum dapat menggunakan vaksin produksi dalam negeri. Kunci keberhasilan suatu negara dalam menguasai vaksin adalah adanya riset dan development yang kuat.

Selain itu, adanya keterkaitan antara riset dan development dengan industri atau pabrik yang memproduksi vaksin. ‘’Inilah yang harus kita perbaiki dan kita pelajari bahwa pengembangan vaksin harus dilakukan secara mandiri dari hulu hingga hilir” tutur Menristek yang terus mendorong terbentuknya kemandirian bahan baku obat di Indonesia. “Hampir 90 persen bahan baku obat di Indonesia adalah berasal dari impor, padahal kita memiliki kekayaan hayati yang sangat tinggi,” katanya.

Bambang menyebutkan kini konsorsium mampu menghasilkan 61 produk inovasi. Berbagai produk riset yang dihasilkan dibagi menjadi lima kelompok, yaitu pencegahan yang terdiri dari produk imunomodulator dan mobile hand washer. Selanjutnya, kelompok screening atau deteksi menghasilkan berbagai produk rapid test.

Baca Juga: Vaksin Covid-19 Diproduksi di Eks Lab Flu Burung

Kelompok alat kesehatan pendukung di antaranya produk dari riset peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yaitu autonomous UVC mobile robot (AUMR) dan ozone nanomist. Kelompok terapi dan obat menemukan terapi plasma konvalesen serta terapi mesenkimal sel punca dan eksosom. Kelompok kelima yaitu sosial humaniora dan data base di antaranya berhasil mendapatkan whole genome sequencing dari virus penyebab Covid 19.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Gus Yahya: Jangan Sampai Peradaban Runtuh

Selasa, 7 Februari 2023 | 14:02 WIB

Ini 4 Quotes Para Tokoh Terkait Peringatan 1 Abad NU

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:42 WIB
X