Kungkum Dulu, Baru Dikhitan

- Jumat, 26 Februari 2021 | 01:00 WIB
SM/dok - LARUNG KULUP :Prosesi tradisi ruwat tolak bala Larung Kulup Pengantin Sunat yang dilakukan oleh Sanggar Budaya Blakasuta, Kembaran Wetan, Kaligondang, Purbalingga. (55)
SM/dok - LARUNG KULUP :Prosesi tradisi ruwat tolak bala Larung Kulup Pengantin Sunat yang dilakukan oleh Sanggar Budaya Blakasuta, Kembaran Wetan, Kaligondang, Purbalingga. (55)

Beberapa tradisi dalam proses kehidupan jarang dilakukan lagi. Salah satunya yakni ruwat tolak bala lurung kulup. Tradisi itu biasa dijalankan oleh calon pengantin sunat.

AGUNG (10), bocah asal Desa Kembaran Wetan, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga akan disunat. Ada hal yang berbeda sebelum prosesi sunatan dimulai. Bila lazimnya anak yang akan disunat langsung dibawa ke mantri atau dokter, Agung harus melalui sejumlah prosesi yang disebut ruwat tolak bala lurung kulup pengantin sunat. Sebelum disunat, siang itu, Agung harus dibawa ke sebuah sendang atau sungai kecil.

Dari rumahnya, dia ditandu dan dikawal oleh punggawa berkuda bernama Mbah Puring dan diringi kereta kuda. Sesampai di sungai, pengantin sunat diserahkan kepada penjaga sungai atau Mbah Panjer.

Setelah berdoa bersama, Agung lalu dibopong dan dimasukkan ke sungai untuk berendam. ”Kalau zaman dulu, berendam paling sebentar sejam. Kungkum itu, karena dulu belum menggunakan obat bius, untuk mengurangi rasa sakit saat disunat,” kata Tuwarno, Ketua Sanggar Budaya Blakasuta, Kembaran Wetan, Kaligodang, Purbalingga, baru-baru ini.

Begitu mentas, pengantin sunat ini kemudian disiram dengan air bunga dengan tujuan memberikan kesegaran dan keceriaan padanya. Mbah Puring terlebih dahulu laporan ke punggawa praja atau perangkat desa kemudian membawa pengantin sunat ke orang tuanya. Sesampai di rumah, ada proses tumpang tapih yakni didoakan oleh neneknya disertai dengan sambetan.

Agung juga dilangkahi oleh ibunya. Setelah prosesi ini selesai, pengantin sunat baru diserahkan ke pihak medis atau mantri untuk disepiti. ”Setelah disunat, baru prosesi larung kulup itu dilakukan. Kulup itu ujung kelamin laki-laki yang dipotong. Nah, itu dilarung atau dihanyutkan di sungai untuk kungkum tadi,” imbuh Tuwarno. Tradisi ruwat tolak bala larung kulup pengantin sunat ini dimaksudkan untuk menjauhkan sengkala atau hal-hal yang nahas terhadap pengantin sunat dan keluarganya.

Diharapkan, melalui ruwatan ini, baik si pengantin sunat maupun keluarganya lepas dari marabahaya. Setelah prosesi larung kulup dan sunatan selesai, malamnya dilanjutkan dengan hiburan-hiburan kesenian tradisional. Seperti lengger, calung, dan lainnya. Tradisi ini, sekarang sangat jarang dilakukan oleh warga di Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya. Hal ini seiring dengan majunya dunia medis dimana sunatan dilakukan dengan obat bius atau dengan metode lain yang lebih cepat dan tidak terasa sakit.

Tradisi ruwat tolak bala larung kulup pengantin sunat sempat diikutkan dalam Festival Merawat Tradisi Tahun 2020 yang digelar oleh Inspirasi Jawa Tengah atas inisiasi Bambang Sadono, November lalu. Festival dilakukan secara daring melalui kanal YouTube Inspirasi Jawa Tengah. Festival ini diikuti oleh 62 peserta dari Jawa Tengah. Larung Kulup yang dibawakan oleh Sanggar Budaya Blakasuta ini ternyata banyak menarik antusiasme.

Setidaknya video Larung Kulup ditonton sebanya 23 ribu kali di kanal YouTube. ”Alhamdulillah, ternyata pertunjukan kami banyak yang menontonnya. Padahal peserta lain juga banyak yang bagus. Ada lengger, dolalak, sintren, calung, dan pertunjukkan tradisional lainnya,” kata Tuwarno.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Baru Sebulan Diresmikan, Jembatan di Karawang Ambles

Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:41 WIB

Gita Amperiawan Jadi Dirut DI yang Gres

Jumat, 28 Januari 2022 | 00:13 WIB
X