Limbah Medis Covid-19 Hampir 2 Juta Ton, Harus Jadi Perhatian Bersama

- Rabu, 17 Februari 2021 | 11:12 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Jumlah limbah medis dari hasil penanganan Covid-19 hingga kini diperkirakan hampir tembus 2 juta ton. Limbah medis ini tidak hanya dihasilkan dari aktivitas fasilitas kesehatan, namun juga dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) masyarakat sehari-hari seperti masker sekali pakai dan face shield.

Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menyampaikan limbah medis termasuk masker dan Alat Pelindung Diri (APD) tercatat telah mencapai 1.662 ,75 ton pada rentang Maret sampai September 2020. Jumlah itu terus meningkat dan diperkirakan hampir 2 juta ton saat ini mengingat penggunaan APD, masker face shield juga meningkat seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir.

 “Ini harus menjadi perhatian kita bersama baik peneliti, penggiat dan juga sektor lingkungan hidup atas dampak buruk yang ditimbulkan oleh limbah medis terhadap lingkungan,” ujar Nur saat membuka webinar “Jangan Buang Maskermu!: Pengelolaan Limbah Masker di Masa Pandemi Covid-19”, Selasa (16/2), dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional Tahun 2021.

Baca juga: Limbah Medis Menumpuk, Ini Solusi untuk Mengatasinya

LIPI mengingatkan peningkatan jumlah pasien Covid-19 di Indonesia mendatangkan permasalahan baru, di mana terjadi peningkatan jumlah limbah APD, terutama masker. Limbah masker juga ikut disumbang oleh makin tingginya jumlah masyarakat yang menggunakan masker bedah ataupun jenis masker sekali pakai lainnya.

Nur mengatakan LIPI memiliki teknologi untuk pengelolaan limbah, sterilisasi, insenerator, dan daur ulang limbah medis di masa pandemi Covid-19. Nur mengharapkan terbentuknya kerjasama dengan industri dengan adanya investasi pada pengelolaan limbah masker, sebagai langkah konkret penyelesaian masalah limbah APD.

Sementara Agus Haryono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI mengatakan limbah medis terutama masker yang mengandung plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk bisa terurai. “Hal ini tentu menjadi masalah bagi lingkungan, karena plastik sulit terurai. Selain itu limbah masker juga sangat infeksius sehingga dapat membahayakan masyarakat terutama petugas kebersihan,” tutur Agus.

Baca juga: KLHK Larang Pembuangan Limbah Medis ke TPA

Agus mengatakan perlu strategi sinergi multi pihak untuk mengatasi limbah masker. “Hasil kajian dari peneliti LIPI, menemukan adanya timbulan limbah APD yang mengandung plastik yang dibuang di daerah teluk Jakarta, seperti di Marunda dan Cilincing. Peningkatannya mencapai 5 persen di masa pandemi,” ungkap Agus.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X