Energi Terbarukan Hadirkan Terang dan Kesejahteraan di Lebakbarang

- Sabtu, 13 Februari 2021 | 16:13 WIB
PLTMH BEROPERASI: Sejak Maret 2016, PLTMH Lebakbarang di Desa Bantarkulon, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, menyuplai listrik bagi 7.000 rumah tangga di Kecamatan Lebakbarang. (suaramerdeka.com/Isnawati)
PLTMH BEROPERASI: Sejak Maret 2016, PLTMH Lebakbarang di Desa Bantarkulon, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, menyuplai listrik bagi 7.000 rumah tangga di Kecamatan Lebakbarang. (suaramerdeka.com/Isnawati)

HARI beranjak malam. Usai melaksanakan shalat isya, Rochim (46), warga RT 01/ RW 01 Desa Bantar Kulon, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, bersiap berangkat ke warung, Jumat (12/2). Sementara, istri, anak dan cucunya berkumpul di ruang tengah menikmati siaran televisi. Setelah berpamitan dengan istrinya, Rochim pun melangkahkan kaki untuk menjemput rezeki di malam hari.

Di sepanjang perjalanan menuju warungnya, tampak beberapa kios masih buka menjual rokok dan aneka jajanan. Selang 15 menit, Rochim tiba di warungnya. Warungnya menyediakan kopi khas Desa Bantar Kulon, mi instan dan aneka jajanan.

Geliat ekonomi pada malam hari di Desa Bantar Kulon, mulai terasa sejak empat tahun terakhir setelah PT PLN (Persero) meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Lebakbarang di Desa Bantar Kulon pada Maret 2016. PLTMH Lebakrbarang yang memanfaatkan aliran Sungai Sengkarang mampu menghasilkan listrik sebesar 7 megawatt melalui tiga unit mesin dan masuk ke dalam sistem interkoneksi Jawa Tengah melalui transmisi 20 kV.

Baca Juga: PLN Didorong Segera Manfaatkan Energi Terbarukan

Sejak saat itu, sebanyak 7.000 rumah tangga di Kecamatan Lebakbarang menikmati nyala lampu listrik dari PLN. “Dulu, sebelum ada PLTMH, kalau malam hari sepi. Nggak ada televisi, nggak ada kulkas, nggak ada warung yang buka, nggak ada penerangan jalan. Karena lampu dari kincir kan terbatas. Untuk rumah sendiri saja sangat terbatas,” kata Rochim.

Baca Juga: Pansus Energi Daerah Tinjau PLTMH Lebakbarang

Sebelum Maret 2016, selama puluhan tahun, warga Desa Bantar Kulon menerangi rumah mereka dari kincir air sebagai sumber pembangkit listrik. Desa Bantar Kulon terletak di daerah pegunungan dengan ketinggian 350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akses jalan menuju ke sana naik turun dan rawan longsor. Kondisi tersebut membuat jaringan PLN tak sampai ke sana.

Karena belum terjangkau jaringan PLN, warga memanfaatkan Sungai Toso, Sungai Pucung dan Sungai Sengkarang sebagai penggerak turbin air. Dalam kenangan Rochim, ia membuat kincir air berkapasitas 200 watt untuk menerangi rumahnya dengan biaya Rp 2 juta. “Namun yang masuk hanya 110 watt, hanya cukup untuk penerangan saja. Buat ngecharge handphone, handphone-nya malah rusak,” sambungnya.

Rochim yang juga Kepala Dusun Bantar Kulon mengatakan, banyak kendala saat mengoperasionalkan kincir air sebagai pembangkit listrik. Di antaranya linden untuk menggerakkan kincir sering putus. Sehingga, ia harus mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan kincir sebesar Rp 500.000 hingga Rp 1 juta setiap tahun.

Halaman:

Editor: Andika

Terkini

X