Pernikahan Dini Picu Anak Stunting, Begini Penjelasan Kepala BKKBN

- Sabtu, 13 Februari 2021 | 12:00 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengingatkan dampak pernikahan usia dini bukan hanya berpengaruh kepada ibu sang bayi melainkan kepada bayinya. Yang dikhawatirkan jika berdampak pada kondisi stunting di mana kondisi bayi yang lahir yang ukurannya di bawah standar normal.

Menurut Hasto kondisi bayi yang lahir yang ukurannya di bawah standar normal jumlahnya saat ini masih cukup besar.  Angkanya hampir 23 persen dari keseluruhan kelahiran. Bayi yang lahir stunting ada potensi terhambatnya perkembangan intelektual. “Sudah badan pendek, kecerdasannya kurang. Siapa yang memproduksi bayi? Adalah ibu-ibu atau perempuan hamil. Mau hamil banyak yang tidak sehat, anemia, hemoglobin kurang protein kulit tipis tidak berlemak akibat nikah muda,” kata Hasto.

Untuk itu, lanjut Hasto, BKKBN gencar mengampanyekan syarat pernikahan pada perempuan minimal berusia 21 tahun. Pada usia tersebut, pertumbuhan tubuh perempuan sudah melewati sempurna. "Bahwa perempuan itu bisa tumbuh normal sempurna, siap untuk hamil umur 20 tahun. Kalau hamil kurang dari 20 tahun perempuan masih (masa) tumbuh, tulangnya masih tambah padat, ada yang masih (berproses) memanjang. Begitu dia hamil kalsium (untuk pertumbuhannya) diambil oleh janin," kata Hasto Wardoyo.

Baca juga: Perguruan Tinggi Didorong Bantu Penanganan Stunting di Indonesia

Dia menyayangkan ada sebagian pihak justru mempromosikan pernikahan usia dini. Ia mengatakan perempuan yang hamil pada umur 16-17 tahun, bertubuh cenderung pendek, dan mudah bungkuk pada usai 50-60 tahun. Dengan mengkampanyekan usia pernikahan minimal 21 tahun,  jika pun masyarakat meleset, melesetnya ke usia 20 tahun. Berbeda saat dikampanyekan usia 20 tahun, masyarakat bisa meleset ke usia 19 tahun.

Pihaknya menyadari ada budaya sebagian masyarakat menganggap usia pernikahan di atas 20 tahun bagi perempuan dianggap usai tua.  Untuk itu, diperlukan kerja sama semua pihak untuk menumbuhkan kesadaran pencegahan nikah usia muda.  “Allah telah memberikan ilmu kepada kita. Ilmu dalam kehidupan ini bagian sunatullah. Dokter mempelajari tubuh manusia. Apa yang dipelajari ini ilmu Allah, bagian kecil yang jika ditulis dengan tinta selautan pun tidak cukup,” kata dia.

Senada, Koordinator Program Kampanye Gizi Nasional Cegah Stunting PP Fatayat NU Umi Wahyuni mengatakan praktik perkawinan anak usia dini menyumbangkan angka terbesar stunting di Indonesia. "Kita miris juga dengan masih tingginya praktik kawin anak di Indonesia. Ketika anak menikah di usia 10-19 tahun dia berpotensi melahirkan anak stunting, dan di sinilah rantai kemiskinan sulit terputus," kata Umi.

Baca juga: Penanganan Stunting Jalan di Tempat, Kemenkes Diminta Keluarkan Juknis

Umi Wahyuni menambahkan NU selama ini telah berperan mencegah stunting. Beberapa waktu lalu Fatayat NU mengkampanyekan pencegahan stunting, di antaranya membentuk Barisan Nasional Fatayat Cegah Stunting di 8 provinsi dan 13 kabupaten/kota. 

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Target 8 Kursi, PKB Kota Semarang Gelar Evaluasi

Minggu, 26 September 2021 | 19:45 WIB

CSIS: Komunikasi Politik Airlangga Hartarto Kuat

Minggu, 26 September 2021 | 17:40 WIB
X