Limbah Medis Menumpuk, Ini Solusi untuk Mengatasinya

- Kamis, 11 Februari 2021 | 12:00 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com – Limbah medis yang menumpuk sangat berbahaya dan beracun. Volume limbah medis ini dari hari ke hari terus meningkat selama pandemi Covid-19. Untuk itu perlu solusi tepat untuk mengatasi agar limbah yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) aman untuk manusia dan lingkungan.

Menristek/Kepala BRIN Bambang Permadi Soemantri Brodjonegro mengatakan melalui koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengembangkan Alat Penghancur Jarum Suntik (APJS) generasi kedua. Generasi terbaru ini menggunakan inovasi pada metode elektroda geser dan sistem “self-heating” untuk menghancurkan bagian metal jarum suntik, serta merusak tabung jarum agar tidak dapat dipergunakan kembali.

“Niat kami ingin berkontribusi pada penanganan Covid19, termasuk efek yang ditimbulkan yaitu limbah medis. Kami harapkan keberadaan APJS generasi kedua ini membantu untuk bisa secepat mungkin menghilangkan limbah jarum suntik, sehingga tidak ada lagi limbah yang mengganggu lingkungan,” kata Menristek dalam pembukaan talkshow virtual “APJS: Solusi Teknologi untuk Masalah Limbah Medis,” pada Selasa (9/2).

Baca juga: KLHK Larang Pembuangan Limbah Medis ke TPA

Sejak wabah Covid-19 Indonesia dari awal Maret 2020 hingga kini penggunaan alat medis sekali pakai seperti jarum suntik terus meningkat. Alat medis tersebut digunakan rumah sakit, puskesmas, klinik, dan laboratorium kesehatan untuk prosedur medis seperti vaksinasi, pengambilan darah, pemberian infus, dan anestesi.

Penggunaan alat medis tersebut memberi sumbangan terbesar pada peningkatan limbah medis jarum suntik dalam beberapa waktu terakhir. Limbah medis termasuk dalam kategori limbah infeksius atau B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Oleh karena itu, penanganan limbah medis memerlukan cara yang tepat untuk menghindari risiko menyebarkan penyakit berbahaya, kemungkinan dipakai ulang, hingga pencemaran lingkungan.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko Tri Handoko mengatakan LIPI berfokus pada riset untuk menghasilkan kekayaan intelektual, namun tidak masuk ke ranah industri, sehingga LIPI memerlukan mitra industri. “Sebagai contoh adalah APJS yang telah diriset oleh Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Bambang Widiyatmoko. Paten APJS generasi satu terbit pada tahun 2008, kemudian dilisensikan kepada industri,” ungkapnya.

Handoko menambahkan saat ini LIPI juga menggunakan skema bermitra dengan industri di awal atau pertengahan proses riset. Pihaknya selain terus mencari mitra lisensi dan juga mengundang mitra industri untuk banyak terlibat langsung sejak awal proses riset. “Sekarang kami tidak hanya melisensikan terkait kekayaan intelektual yang sudah jadi, tetapi mengajak mitra industri untuk masuk di dalam prosesnya, contohnya riset ventilator,” jelasnya.

Dikatakan, LIPI melibatkan mitra industri sejak awal pengembangan produk dan mampu meningkatkan hasil riset, karena terjadi proses cek dan ricek dari proses penelitian sehingga mampu mempercepat pematangan hasil riset.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X