Kemendikbud Pastikan Budaya Kerja dan Sistem Program SMK CoE Berjalan Baik

- Selasa, 2 Februari 2021 | 11:15 WIB
(suaramerdeka.com/dok)
(suaramerdeka.com/dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Guna memastikan berjalannya program sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai Center of Excellence (CoE) yang pada tahun ini menjadi SMK Pusat Keunggulan (PK). Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) ingin memastikan budaya kerja, sistem dan sumber daya manusia (SDM) berjalan baik.

Melalui kunjungan ke SMK Warga, Surakarta, Jawa Tengah (31/1) lalu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto menyaksikan secara langsung produk nyata SMK Warga, yakni mesin Computer Numerical Control (CNC) yang diberi label HKI (Hasil Karya Indonesia).

"Mesin yang terdiri atas CNC 3 Axis dan CNC 5 Axis ini merupakan hasil karya proyek guru SMK bersama mitra industri, dengan melibatkan langsung siswa-siswa SMK Warga," ujar Dirjen Diksi, Wikan Sakarinto.

Mesin CNC karya anak bangsa ini juga memiliki harga sangat kompetitif, yakni Rp170 juta untuk CNC 3 Axis dan Rp370 juta untuk CNC 5 Axis. Ditambah lagi, mesin tersebut juga telah berstandar industri sehingga dapat dipesan oleh pihak industri.

"Karenanya, selain melayani pesanan industri, dana bantuan CoE ini dapat menjadikan teaching factory di SMK Warga menjadi workshop dan training center bagi murid kelas XI dan XII maupun bagi satuan pendidikan vokasi lainnya dan masyarakat sekitarnya," terangnya.

Di samping itu, dengan daya sekitar 500 watt, mesin CNC 3 Axis dapat digunakan untuk home industry. "Saya sangat menyarankan kepada seluruh kampus vokasi seluruh Indonesia yang memiliki jurusan manufaktur dan permesinan untuk membeli produk HKI ini," imbuhnya.

Selain membuat mesin CNC, SMK Warga juga membuat bucket yang dipakai untuk escavator atau alat berat pertambangan berukuran besar. Bahkan, produk yang dibuat melalui kerja sama SMK Warga, PT BUMA, dan juga industri kecil sekitarnya (UMKM, red) ini telah dibeli oleh PT BUMA sendiri sebanyak 180 pieces.

Produk ini juga memiliki keunggulan dengan memiliki masa pakai lebih lama, yakni 550 jam, dibandingkan produk yang harus dibeli dari luar negeri yang hanya memiliki masa pakai 480 jam. Alhasil, dari yang biasanya impor dari Cina dan Jepang, sekarang justru menghasikan pesanan hingga 500 pieces dengan kisaran harga Rp1 juta.

"Jadi, teaching factory (SMK Warga, red) ini memiliki research and development (R & D) yang dikembangkan bersama Akademi Teknologi Warga, UNS, dan PT BUMA yang bagus karena menghasilkan produk yang lebih unggul dibandingkan buatan luar negeri," tegasnya.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Digitalisasi Tetap Menjadi Kunci Pengembangan Daerah

Rabu, 22 September 2021 | 14:33 WIB

Bupati Kolaka Timur dan Lima Staf Terjaring OTT KPK

Rabu, 22 September 2021 | 10:53 WIB

Pak Penghulu pun Kenakan APD

Rabu, 22 September 2021 | 01:35 WIB

PTM Tanpa Izin, 90 Siswa Terpapar Virus Korona

Rabu, 22 September 2021 | 01:29 WIB

Rehab Rumah Tak Layak Huni, BRI Gombong Bantu Rp 50 Juta

Selasa, 21 September 2021 | 21:46 WIB
X