Raden Aria Wangsakara, Pangeran Sumedang Pendiri Tangerang yang Diceritakan dalam Babad Diponegoro

- Senin, 1 November 2021 | 12:14 WIB
Raden Aria Wangsakara. (suaramerdeka.com / dok)
Raden Aria Wangsakara. (suaramerdeka.com / dok)

Selain menunjukkan data dari Babad Diponegoro, R.Tb. M. Nurfadhil juga menceritakan sumber data sejarah valid dari kisah Sajarah Banten dan Paririmbon Ka-aria-an Parahyang.

Dalam dokumen tersebut, dijelaskan bagaimana perjuangan heroik Raden Aria Wangsakara yang nantinya menjadi salah satu tokoh pejuang asal Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Berikut kisah singkat Raden Aria Wangsakara berdasarkan keterangan tertulis R.Tb. M. Nurfadhil Tirtayasa, dikutip pada Senin 1 November 2021.

Raden Aria Wangsakara (1615 - 1681) memiliki nama lain yakni, Imam Wangsaraja / Raden Kenyep / Kyai Narantaka / Syarif Hasan bin Ali.

Baca Juga: Pemerintah Perbarui Aturan Perjalanan Darat, PCR Berlaku 3x24 Jam

Sosok Raden Aria Wangsakara adalah Menantu Sultan Banten IV, cucu Prabu Geusan Sumedang, juga bertaut keturunan dari Pucuk Umun Banten, keturunan Pangeran Suhra Pradoto Jambringin Pamekasan Madura (bin Ki Pragalbo Bangkalan), keturunan Sultan Trenggono Demak, dan bertaut silsilah baik ke Raja Pajajaran dan Raja Majapahit.

Raden Aria Wangsakara menjadi salah satu tokoh pendiri Kabupaten Tangerang, sekaligus Duta Besar Kesultanan Banten kala itu.

Perannya memiliki andil terbentuknya kerjasama perjuangan antara Kerajaan Banten, Mataram dan Makasar, sehingga pernah saling bekerjasama melawan VOC di abad 17 M.

Juga dengan andil diplomasi Raden Aria Wangsakara, pada tahun 1641, Raja Mataram ketiga disahkan sebagai Syarif Mekah dengan penobatan gelar Sultan Abdullah Muhammad Al Matarami / Sultan Agung Mataram.

Baca Juga: Berkunjung ke Suara Merdeka, Kapolda Jateng: Media Mitra Polri

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X