Tak Lelah Menjawab Banyak Pertanyaan

Red
- Kamis, 14 Januari 2021 | 01:07 WIB
SM/twitter @ridwankamil : DIAMBIL DARAHNYA : Petugas mengambil darah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menjadi relawan tes vaksin Covid-19 untuk melihat apakah terjadi reaksi dari vaksin tersebut pada 30 September 2020. (55)
SM/twitter @ridwankamil : DIAMBIL DARAHNYA : Petugas mengambil darah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menjadi relawan tes vaksin Covid-19 untuk melihat apakah terjadi reaksi dari vaksin tersebut pada 30 September 2020. (55)

Vaksin Covid-19 harus melewati beberapa tahap termasuk uji klinis pada manusia. Berikut kisah sukarelawan yang menerima suntikan pada fase tersebut.

PENILAIAN miring terhadap vaksin Covid-19 bukan barang baru lagi bagi Fadly Barjadikusuma (33) semenjak diketahui secara terbuka sebagai sukarelawan uji klinis tahap ketiga. Bahkan menjelang program vaksinasi tersebut dilakukan pertengahan bulan ini, nada-nada meragukan masih dialamatkan kepadanya. Warga Margahayu Kopo Kabupaten Bandung itu pun berupaya menanggapinya dengan santai. ”Sepanjang bisa saya jelaskan, saya terangkan. Rumah juga terbuka untuk didatangi setiap hari. Tapi kalau gak gitu, gak rame juga ya. Kalau semua orang baik, gak ada surga dan neraka nanti,” jelasnya sambil terkekeh saat dihubungi, Rabu (13/1). Beragam pernyataan dan pertanyaan dalam menilai langkah bapak tiga anak itu tak jarang diterima. Terlebih Fadly pun membuka akun di sosial media yang keriuhannya tak jarang pol-polan. Tak hanya dia, istrinya, Mira Nurani (33) pun sama-sama menjadi sukarelawan vaksin Covid-19. Selang penyuntikannya hanya sebulan. Sebagai pasangan sukarelawan, tak jarang keduanya mendapatkan banyak respons termasuk dari tetangga. Termutakhir, kedatangan vaksin Covid-19 siap pakai dari Sinovac jelang program vaksinasi pada pertengahan Januari ini. ”Kok dapat suntik duluan, Kang, padahal barangnya baru datang?” kata Fadli menirukan.

Orang-orang di sekitarnya itu, disebutnya, belum bisa membedakan tahapan uji klinis fase ketiga yang tengah dijalaninya. Bersama seribuan sukarelawan lainnya, Fadly memang tengah dalam rangkaian menguji keampuhan vaksin yang hendak dipakai sebelum digunakan secara massal. Sedangkan vaksin jadi itu tetap mempertimbangkan hasil uji klinis sehingga penggunaannya harus melalui izin penggunaan darurat. Dia pun memilih untuk tak menanggapinya secara berlebihan. Sepanjang bisa dijelaskan, akan dilakukannya termasuk saat berinteraksi dengan rekan-rekannya yang sama-sama bernaung di bawah panji ”salam satu aspal”. Tak jarang, di grup mereka itu, Fadly menjawabnya secara panjang lebar dengan mengirimkan video atau pesan suara setelah banyak pertanyaaan dialamatkan kepadanya. ”Sebelumnya vaksinnya disebut bisa bikin lumpuh lah, kemudian keampuhannya yang 65 persen yang kemarin itu diributin juga,” imbuh Fadly. Dengan berbekal pengetahuan termasuk penjelasan dari narasumber di rangkaian proses uji klinis itu, dia pun berupaya menjawabnya. Termasuk soal efikasi vaksin Covid-19 itu.

Menurut dia, sejumlah faktor mempengaruhi termasuk latar belakang pekerjaan. Dia berharap profesi yang mengikuti uji klinis itu dibuka komposisinya. Pasalnya, Fadly pun penasaran terhadap efektivitas vaksin tersebut terhadap orang yang mempunyai pekerjaan di lapangan seperti dirinya. ”Saya tentu menerapkan protokol kesehatan, meski sudah dapat suntikan. Tapi kalau tahu latar belakang pekerjaanya itu bagus juga kan buat masukan, buat pertimbangan kita yang banyak berinteraksi dengan beragam orang,” katanya. Dia mengaku menjadi sukarelawan karena awalnya ingin melindungi diri dan keluarganya selama pandemi. Dampak pandemi yang merangsek ke semua lini, termasuk yang dirasakannya sebagai pekerja transportasi yang memanfaatkan jaringan internet menjadikan tekadnya tambah kuat. Setelah berinteraksi dengan tim uji klinis, keyakinannya bertambah terutama dari sisi pengalaman. Tim tersebut tak sekali ini menggulirkan uji klinis vaksin. Sepenuhnya, dia percaya terhadap mereka. Hatinya pun nyaman dan tenang. ”Jadi niatnya tak hanya buat melindungi untuk diri dan keluarga sendiri, tapi juga buat bantu-bantu pemerintah juga, dan lebih dari itu, pandemi ini kalau bisa segera berakhir,” kata Fadly. Dia sejak awal menyadari tak mudah menjalani langkah tersebut. Serangan-serangan yang dialamatkan kepadanya terutama di media sosial sudah diperhitungkan. Tapi dia pun memilih ketenangan dalam meladeninya. ”Mau di-bully, atau ada semacam buzzerbuzzer sudah biarin saja. Tapi kalau ada yang mau tanya, saya tak keberatan. Saya terbuka saja, termasuk mau mengecek langsung kehidupan saya setelah menjalani uji klinis, silakan saja,” katanya. Respons yang sempat tinggi tentu saja pada saat menjalani suntikan tersebut. Total dia mendapatkan dua kali suntikan. Dia mengaku mengalami kondisi pada umumnya. Ada pegal habis disuntik tapi tak lama. ”Demam? Itu mah pengaruh cuaca saja. Selebihnya saya dan istri beraktivitas seperti biasa saja kok. Kerja tiap hari. Sejak Agustus, sejauh ini, kami tak ada apa-apa. Keluhan gak ada. Normal-normal saja,” katanya. Dengan kepenasaran di lingkungan sekitarnya, Fadly bersama istrinya berupaya menjawabnya.

Hanya saja, ada juga momen untuk mengklarifikasi supaya duduk persoalannya menjadi jelas. ”Terhadap mereka yang terus tanya, saya sih suka nanya dulu, kamu baca apa dan sumbernya dari mana, jangan informasi katanya kemudian jadi rujukan, repot,” kata Fadly. Dia pun kemudian mengaku merasa lega setelah program vaksinasi Covid-19 resmi bergulir. Harapannya, langkah itu diharapkan bisa memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan seperti yang juga didambakannya. Baginya, proses uji klinis tersebut belum selesai. Pasalnya, masih ada serangkaian kegiatan yang harus diikuti yang dijadwalkan hingga Maret mendatang termasuk kepastian statusnya sebagai sukarelawan. Pengalaman serupa dirasakan pula Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Dia pun mengaku selama menjadi sukarelawan tak mengalami keluhan berarti. Dia menjadi sukarelawan bersama bersama Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto, eks Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Sufahriadi, dan Kajati Jabar, Ade Adhyaksa. ”Hanya pegel linu 1 jam saja (usai disuntik), kemudian efek lainnya tiga hari agak mengantuk jelang Magrib. Apa ada bengkak, tidak, demam juga tidak, badan berubah pun tidak,” katanya. Dia menambahkan, selama mengikuti uji klinis tersebut, pihaknya melakukan pula mobilitas tinggi sebagai pejabat. Memang RK mengimbangi kegiatannya dengan olahraga dan asupan vitamin. ”Tapi ini sebagai tambahan menguatkan kebugaran saja,” katanya. Karena masih tercatat sebagai sukarelawan, RK tak mendapat suntikan kembali dalam program vaksinasi Covid-19 yang mulai bergulir pada pertengahan Januari ini. Hanya saja, guna lebih menyakinkan atas program tersebut, mantan Wali Kota Bandung itu memilih mengawal proses vaksinasi gelombang pertama di wilayahnya. Di antaranya mengantar Wagub Uu Ruzhanul Ulum dan juga Kapolda Jabar Irjen Pol Ahmad Dofiri untuk menjalani penyuntikan pertama. Langkah tersebut diharapkan bisa memberikan keyakinan kepada masyarakat akan urgensi vaksinasi dalam menghadapi pandemi.( Dwi Setiadi-56)

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Sempat Jadi Sultan, Warga Kampung Miliarder Kini Galau

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:55 WIB

RK: Kita Tak Pernah Merencanakan Pembangunan Ibukota

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:42 WIB
X