Warga di Area Bahaya Sudah Mengungsi

- Kamis, 7 Januari 2021 | 01:27 WIB
SM/Dananjoyo Kusumo : KELUARKAN LAVA : Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu dini hari (6/1) pukul 01.05. (39)
SM/Dananjoyo Kusumo : KELUARKAN LAVA : Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu dini hari (6/1) pukul 01.05. (39)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta BPBD di daerah yang mengelilingi Gunung Merapi untuk memastikan kondisi pengungsi dan tempat pengungsiannya. Hal ini menyusul Gunung Merapi yang memasuki fase erupsi 2021. Ganjar mengatakan, instruksi secara umum masih sama seperti pada saat status Gunung Merapi meningkat pada level Siaga 1. Ganjar meyakini, warga di lereng Gunung Merapi sudah paham dan akan ikut perintah BPBD. ”Instruksinya sama. Karena mereka sudah terlatih sudah tahu, ikuti seluruhnya perintah dari BPBD,” tegas Ganjar, usai acara Poscast dengan Kanwil Direktorat Jendral Pajak (DJP) Jateng II, di Ruang Rapat Kantor Pemprov Jateng, Rabu (6/1). Ganjar juga meminta agar BPBD mengambil data sains dari vulkanologis terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi. Kemudian, data tersebut disampaikan pada masyarakat agar mereka juga memahami. ”Kebetulan saya dilaporin setiap hari, dapat report terus oleh kawan-kawan dan sampai hari ini masih terkendali dan di tempattempat pengungsian selalu standby terus,” ujar Ganjar. Bahkan, kata Ganjar, sampai dengan tadi malam dirinya masih mendapat laporan terkini tentang kondisi pengungsian di Boyolali, Magelang dan Klaten. Terkait pengungsi, Ganjar mengatakan, hingga hari ini pihaknya terus meminta agar pengelola tempat pengungsian memastikan kondisi para pengungsi dijaga dengan baik. Terutama yang berkaitan dengan protokol kesehatan Covid-19. ”Sekarang saya minta untuk dipastikan di area yang berbahaya itu pastikan mereka semua sudah mengungsi dan saya minta untuk ngecek,” tandasnya.

Fase Erupsi

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) juga telah menyimpulkan, fase awal erupsi dimulai sejak 31 Desember 2020 yang ditandai munculnya api diam hingga fenomena guguran lava pijar dari puncak yang terlihat pertama kali pada 4 Januari 2021 malam. ”Dari satelit juga menginformasikan gundukan yang diduga itu adalah material baru,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, kemarin. Munculnya lava pijar bukan fenomena baru pada proses erupsi Merapi. Pada letusan 2001 dan 2006, tampak pula titik api diam yang merupakan tanda magma sudah sampai di permukaan. Peningkatan aktivitas Merapi juga terpantau dari alat satelit yang memperlihatkan gundukan pada ujung bibir kawah barat daya yakni Lava1997. Keberadaan gundukan masih akan diteliti. Diamati dari fisiknya, gundukan itu merupakan magma baru yang diatasnya terdapat material lama. Jika terus berkembang, ada kemungkinan tumbuh menjadi kubah lava baru. ”Satelit menginformasikan adanya gundukan material yang diduga material baru, serta pengangkatan di daerah puncak yang mengakibatkan sebagian material longsor ke arah selatan dan barat daya,” terang Hanik. Berbeda dengan erupsi efusif 2006 dimana setelah ada kubah lava, deformasi dan vulkanik dangkal berhenti sedangkan gempa multiphase meningkat. Seismisitas multiphase inilah yang mengindikasikan pertumbuhan kubah lava. Sementara kondisi sekarang, gempa vulkanik dangkal dan deformasi masih terus terjadi. Mengingat rekomendasi masih sama, Pemkab Sleman belum mengungsikan warga yang tinggal di lereng barat Merapi. Kendati, angka pengungsian di barak Glagaharjo Cangkringan terus bertambah seiring peningkatan status Merapi. ”Sudah ada 328 warga Kalitengah Lor yang mengungsi. Sesuai kesepakatan dengan pihak kelurahan, semua warga diminta mengungsi termasuk diluar kelompok rentan,” katanya.(ekd,J1-64)

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Baru Sebulan Diresmikan, Jembatan di Karawang Ambles

Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:41 WIB

Gita Amperiawan Jadi Dirut DI yang Gres

Jumat, 28 Januari 2022 | 00:13 WIB
X