Dulu Diabaikan, Kini Dicari

- Kamis, 7 Januari 2021 | 01:07 WIB
SM/Arif Widodo : PANEN PORANG : Sejumlah pembudi daya porang di Kebumen menikmati panen, belum lama ini. (39)
SM/Arif Widodo : PANEN PORANG : Sejumlah pembudi daya porang di Kebumen menikmati panen, belum lama ini. (39)

Hampir di seluruh daerah Indonesia terdapat budidaya tanaman porang (Amorphophallus muelleri). Jika dulu banyak diabaikan sebagai tanaman liar di pekarangan rumah, porang kini banyak dibudidayakan petani di sejumlah daerah. Bahkan di pasar ekspor, umbi porang yang diolah jadi tepung ini banyak dicari.

DI Kebumen, budidaya tanaman umbi-umbian itu tengah digeliatkan untuk merespons kebutuhan ekspor yang tinggi. Hingga Desember 2020, kebutuhan porang kering dari Vietnam saja mencapai 15 ribu ton selama satu tahun. Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kebumen, Akif Fatwal Amin mengatakan, kebutuhan yang besar tersebut tidak musiman atau sesaat. Pasalnya, produk turunan dari porang cukup banyak. ”Tidak hanya dikonsumsi saja, tetapi dijadikan seperti beras, bahan kertas, bahan tekstil dan kosmetik,” kata Akif. Pria yang juga salah satu perintis budidaya tanaman porang di Kebumen lebih lanjut menuturkan, di Jawa Tengah pun telah berdiri satu pabrik pengolah porang. Adapun di Jawa Timur sudah ada empat pabrik dengan harga awal musim panen rata-rata Rp 8.000 - Rp 11.000/kg.

Proses pengolahan porang untuk bahan makanan dibuat tepung terlebih dahulu. Kendati di Kebumen tertinggal dibandingkan daerah lain dalam membudidaya porang, namun pada 2020 musim tanamnya mengalami peningkatan berarti. Sebagai bahan baku kertas, porang yang diolah memiliki keistimewaan lebih tipis namun tidak gampang robek karena memiliki kadar glokomanan yang tinggi. Adapun untuk bahan tekstil, penggunaan porang pada proses sebelum dirajut menjadi kain benang yang dicelupkan ke dalam cairan porang, akan lebih mengilap dan elastis. ”Untuk bahan baku kosmetik, porang sebagai campuran membuat kosmetik yang dipakai tidak gampang luntur,” imbuhnya. Budidaya porang sendiri dikatakan Akif cukup mudah karena tidak butuh lahan khusus. Untuk wilayah di bawah 200 meter dari permukaan laut (mdpl) sangat cocok dengan suasana rindang.

Waktu Tanam

Tanaman tersebut butuh kelembaban tapi tidak berlebihan air atau intensitas cahaya antara 40-60 persen. Akif yang memiliki dua hektare lahan porang dan merambah ke pembibitan itu mengaku mulai mendapat pesanan dalam bentuk polibek. Dari tanam sampai panen memakan waktu sekitar enam bulan. ”Budidaya apapun, tentunya harus lihat produk turunan seberapa banyak. Kalau pepaya, jambu kristal paling hanya untuk buah saja. Sehingga tidak laku kalau melimpah. Berbeda dengan porang yang produk turunannya banyak, baik untuk skala industri maupun pabrikasi,” terang Akif. Diharapkan pada 2021 ini pasar porang lebih menggeliat lagi. Pihaknya juga berharap pemerintah daerah memberikan perhatian dalam bentuk sosialisasi atau memberikan bantuan modal. Terlebih masih banyak lahan kosong di Kebumen. Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Ifah Isnatul Banat yang dihubungi terpisah mengatakan, telah ada perhatian Pemprov Jateng terkait pengembangan budidaya porang. ”Dari provinsi sudah ada bantuan, hanya saja untuk Kebumen memang belum,” ucapnya. (Arif Widodo-64)

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Baru Sebulan Diresmikan, Jembatan di Karawang Ambles

Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:41 WIB

Gita Amperiawan Jadi Dirut DI yang Gres

Jumat, 28 Januari 2022 | 00:13 WIB
X