Varian Corona Ancam Anak-anak, IDI: Hati-hati Buka Sekolah

- Rabu, 30 Desember 2020 | 03:59 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengingatkan pemerintah berhati-hati jika akan membuka kembali sekolah tatap muka pada masa pandemi Covid-19. Pasalnya, varian baru Covid-19 yang ditemukan di Inggris lebih banyak menyasar anak-anak.

”Di Indonesia positivity rate di atas 10 persen, harus hati-hati buka sekolah. Jadi mohon diperhatikan jika terpaksa membuka sekolah, harus dimonitor sangat ketat,” kata Zubairi dalam dialog Membedah Regulasi Larangan Masuk bagi Warga Asing yang disiarkan akun Youtube BNPB, Selasa (29/12).

Positivity rate adalah perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dan jumlah tes yang dilakukan. Berdasarkan data mingguan Satgas Covid-19 per 14 Desember-20 Desember, angka positivity rate Indonesia 18,26 persen. Angka tersebut hampir empat kali lebih tinggi dari ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 5 persen.

Zubairi mengatakan, saat sekolah di Inggris tetap dibuka, ditemukan anak-anak lebih banyak terinfeksi varian baru virus corona daripada varian yang lama. ”Dari situ disimpulkan, baru saja datang pun, (virus) ternyata bisa cepat menyebar,” kata Zubairi.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim Nadiem menyerahkan keputusan pembukaan sekolah kepada pemerintah daerah, pihak sekolah, serta orang tua murid. Namun, beberapa daerah memutuskan menunda pembukaan sekolah, seperti Jawa Tengah dan Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Komisi X DPR juga meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan pembukaan sekolah pada Januari 2021. Meskipun demikian, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan ada 785 sekolah di wilayahnya yang akan menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan.

Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan 78,17 persen dari 62.448 siswa setuju sekolah tatap muka dilakukan Januari 2021. Hasil ini berdasarkan survei daring pada 11-18 Desember 2020. Penundaan pembukaan sekolah juga dilakukan oleh Pemkab Cianjur, Jawa Barat; Pemkot Manado, Sulawesi Utara; dan Tangerang, Banten.

Mereka khawatir pembelajaran tatap muka di tengah laju kasus yang tak terkendali mengakibatkan klaster baru di lingkungan sekolah. Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut mutasi baru virus korona yang terjadi di Inggris bisa memperburuk kondisi pandemi di Indonesia. Menurut dia, varian baru ini punya tingkat penularan 70 persen lebih tinggi, sehingga akan memperbesar tingkat penularan Covid-19 di Indonesia.

”Jika varian virus ini masuk dan menyebar, maka akan memperburuk kondisi Indonesia, meningkatkan positivity rate,” kata Wiku dalam jumpa pers di
Istana Kepresidenan, kemarin.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X