Awal Januari, 97 Warga Tempati Rumah Deret Kampung Nelayan Tambakrejo

Maya
- Senin, 28 Desember 2020 | 18:16 WIB
RUMAH DERET : Proyek pembangunan rumah deret kampung nelayan Kampung Tambakrejo telah diserahterimakan dari pengembang kepada Pemkot Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukaan (Disperkim). Rencananya bisa mulai ditempati pada awal Januari 2021. (suaramerdeka.com/dok)
RUMAH DERET : Proyek pembangunan rumah deret kampung nelayan Kampung Tambakrejo telah diserahterimakan dari pengembang kepada Pemkot Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukaan (Disperkim). Rencananya bisa mulai ditempati pada awal Januari 2021. (suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pembangunan proyek rumah deret kampung nelayan Kampung Tambakrejo saat ini telah selesai. Proyek pembangunan telah diserahterimakan dari pengembang kepada Pemkot Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukaan (Disperkim). Direncanakan, rumah deret tersebut diperuntukkan bagi tempat tinggal sementara 97 KK dari masyarakat terdampak penertiban proyek normalisasi Banjirkanal Timur beberapa waktu lalu. Proses penempatan diperkirakan berlangsung pada awal Januari 2021.

Baca Juga: Kampung Nelayan Akan Jadi Percontohan Nasional

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali, mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat bersama dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang untuk membahas sistem penempatan hunian tersebut. Pasalnya, lahan tersebut merupakan tanah milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana. Adapun Pemkot Semarang melakukan sewa tanah dalam pembangunan rumah deret tersebut.

Baca Juga: Pembangunan Kampung Nelayan Tambakrejo Mulai Dikerjakan

Baca Juga: Masa Pandemi, Hendi Upayakan Realisasi Kampung Nelayan Tambakrejo

''Kami prioritaskan rumah deret hunian sementara itu untuk ditempati bagi 97 KK terdampak proyek normalisasi Banjirkanal Timur. Hanya saja, masih belum diputuskan apakah akan diberlakukan sistem sewa layaknya Rusunawa atau seperti apa nantinya. Sistem sewa tanah kepada BBWS diberlakukan selama 5 tahun untuk tahap pertama, dan diberikan kesempatan perpanjangan sekali,'' papar dia, saat ditemui di kantornya, Senin (28/12).

Baca Juga: Normalisasi Banjirkanal Timur Perlu Ditinjau Ulang

Menurut Ali, sebenarnya yang tergusur dari proyek normalisasi di Kampung Tambakrejo ada 147 KK. Namun kemudian, hanya ada 50 KK yang bersedia direlokasi di Rusunawa Kudu. Sisanya memilih tinggal dan menempati bedeng-bedeng yang berada di bawah jembatan layang di Kampung Tambakrejo.

''Dari jumlah awal 97 KK tersebut, ternyata sekarang hanya tersisa 57 KK yang masih tinggal di bedeng-bedeng itu. Sementara 40 KK lainnya telah pindah ke berbagai tempat dan tidak lagi berada di sana. Hanya saja, kami sudah memiliki data siapa saja yang termasuk dalam 97 KK tersebut,'' ujar dia.

Halaman:

Editor: Maya

Terkini

7 Fakta Meninggalnya Ameer Azzikra, Adik Alvin Faiz

Senin, 29 November 2021 | 18:55 WIB
X