Asyik !!, Disperkim Kota Semarang Tambah RTH untuk Ruang Publik

Nugroho
- Minggu, 6 Desember 2020 | 17:54 WIB
(suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)
(suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang terus berbenah dengan tambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) baru, yang sekaligus bisa difungsikan untuk sarana berinteraksi dan berkumpul masyarakat (ruang publik). Salah satunya dengan mengembangkan hal tersebut di Taman Hutan Kota Mijen yang berada di daerah barat-selatan Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan dan Kecamatan Mijen.

Kabid Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati, menjelaskan, lokasi tersebut ada di pinggir jalan Outer Ring Road Mangkang-Mijen dekat dengan kantor Direktorat Sabhara Polda Jateng. Luas area lahan berukuran 3 hektar, berdekatan dengan rencana Pusat Pemerintahan dari Pemkot Semarang nantinya. Area RTH itu di dalamnya akan berisi sejumlh fasilitas seperti panggung untuk pertunjukan, lapangan besar, jogging track, toilet, hutan kota, dan danau yang berfungsi untuk pengendali banjir.

''Lahan ini memang disiapkan multifungsi, sebagai fungsi wisata untuk berkumpul masyarakat melepas kejenuhan, fungsi resapan air, fungsi paru-paru kota atau pencegah polutan, dan sarana pengendali banjir di kawasan ini. Kami menargetkan untuk memperbanyak lahan untuk fungsi resapan dan tampungan air, sebagai pengimbangnya. Mengingat sudah banyaknya lahan-lahan di daerah Mijen dan sekitarnya yang difungsikan sebagai area-area pengembangan perumahan. Mudah-mudahan alam tetap terjaga dan terkendali untuk ke depannya,'' ujar Pipie panggilan akrabnya, Minggu (6/12).

Selama ini, kata dia, pengembangan perumahan dan kawasan industri ataupun bangunan-bangunan seringkali tidak memperhatikan aspek lingkungan, berupa fungsi resapan air dan fungsi hijau. Alhasil, kondisi ini justru menjadikan salah satu penyebab banjir di Kota Semarang. Untuk itu, sebanyak mungkin masayrakat harus bersama-sama memikirkan ini. Misalnya di lini paling kecil yaitu 1 kavling lahan rumah harus menyediakan lahan hijau di dalamnya. Coba kalikan berjuta-juta lahan rumah, maka air tentu tidak akan keluar ke drainase Kota Semarang. Selin itu, air yang berasal dari air hujan atau limbah rumah tangga akan mengisi air tanah, sehingga bisa meminimalisir penurunan tanah <I>(land subsidence)<P> di Kota Semarang.

''Bagi lahan rumah yang berada di Kota Semarang bagian bawah yang muka air tanahnya tinggi, bisa ikut menyumbang dengan membuat sistem tampungan air hujan. Bisa dimanfaatkan lagi di lahan rumahnya menjadi air daur ulang, sehingga tidak keluar ke drainase kota. Maupun untuk menyirami tanaman di halaman rumahnya, bisa menghemat air juga. Istilahnya panen air hujan <I>(rainwater harvesting)<P>,'' imbuh Pipie.

Adapun untuk lini besar pengembangan kawasan perumahan dan pengembangan kawasan industri, ujar dia, perlu disediakan RTH dan embung atau tampungan air yang ada sesuai aturan persentase dalam Peraturan Daerah (Perda). Jika lingkungan rusak, seharusnya itu bukan hanya menjadi tanggung jawab dari Pemkot saja. Melainkan juga bagi pihak-pihak yang terlibat di dalam pembangunannya. Jika setiap lahan rumah melakukan hal ini secara bersama, diyakini Kota Semarnag bisa terhindar dari kerusakan lingkungan. Dikarenakan generasi muda ikut menyumbang kepedulian terhadap lingkungan

''Benang merah dari kesesuaian tata ruang terhadap Perda No.14 Tahun 2011 Kota Semarang tentang perencanaan pengembangan lahan dan pelaksanaan pembangunan, tidak bisa dilepaskan karena saling berhubungan. Tinggal melihatnya saja, itu ditaati dan dilaksanakan di lapangan atau tidak,'' katanya.

Sementara itu, Pakar Lingkungan Hidup dari Undip, Nelwan, mengungkapkan, keberadaan RTH dengan banyak pohon akan cukup efektif bagi penghijauan sebuah wilayah sekaligus berfungsi untuk resapan air. Menjadikan Kota Semarang bisa tidak lagi tergenang air atau terendam banjir. Hal tersebut harus ditambah dengan pembuatan sistem drainase yang baik. Untuk memperlancar agar genangan air bisa mengalir dengan lancar.

''RTH akan menjadi penyuplai oksigen sekaligus penyerap karbon oksida, yang akan membuat sebuah daerah berubah lebih sejuk dan sehat. Di dalamnya bisa diisi dengan pepohonan yang mudah tumbuh dan menyejukkan, seperti Pohon Pule dan Trembesi. Tentunya kami sangat mengapresiasi dan mendukung pertambahan RTH di Kota Semarang. Apalagi jika dapat pula berfungsi menjadi ruang publik,'' terang dia.

Halaman:

Editor: Nugroho

Terkini

X