Percepatan Vaksinasi, Pemerintah Targetkan Akhir Tahun Capai 290 hingga 300 Juta Dosis

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:12 WIB
Perhompedin Semarang menggelar bakti sosial vaksinasi massal untuk penderita kanker, mahasiswa dan umum bekerjasama dengan Dokkes Polda Jateng dan UPGRIS. (suaramerdeka.com / Hari Santoso)
Perhompedin Semarang menggelar bakti sosial vaksinasi massal untuk penderita kanker, mahasiswa dan umum bekerjasama dengan Dokkes Polda Jateng dan UPGRIS. (suaramerdeka.com / Hari Santoso)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah terus memastikan percepatan program vaksinasi nasional, terutama bagi kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) yang memiliki risiko tinggi jika terpapar Covid-19.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan, hingga saat ini cakupan vaksinasi nasional telah mencapai 182 juta dosis.

Dari target vaksinasi sebanyak 208 juta penduduk, sebanyak sekitar 113 juta orang atau 54 persen telah menerima vaksinasi dosis pertama dan sekitar 68 juta orang atau 32 persen telah memperoleh dosis kedua.

“Kami mengharapkan di akhir tahun kita bisa mencapai angka suntikan antara 290-300 juta [dosis] untuk 168 juta orang suntikan pertama atau sekitar 80 persen dari target populasi, dan 123 juta orang lengkap suntikan kedua atau sekitar 59 persen dari target populasi,” ujarnya.

Baca Juga: Soal Kecelakaan Kereta LRT, Begini Penjelasan PT Inka

Menkes menambahkan saat ini masih terdapat 55 juta dosis stok vaksin Covid-19 yang siap disuntikkan kepada masyarakat.

“Stok vaksin yang ada sekarang di kita adalah 248 juta [dosis], 237 juta [dosis] sudah didistribusikan, 182 juta [dosis] sudah disuntikkan, jadi kita masih ada stok di seluruh kabupaten, kota, provinsi sebesar 55 juta [dosis],” ujarnya.

Terkait ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan untuk penanganan Covid-19, Menkes menyampaikan bahwa pemerintah tengah melakukan finalisasi kerja sama dengan Merck, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, untuk mendatangkan obat Molnupiravir ke tanah air.

“Kami sudah sampai ke tahap finalisasi dari agreement agar Indonesia bisa mengadakan tablet Molnupiravir, diusahakan di akhir tahun ini. Sehingga kita memiliki cadangan yang cukup untuk menghadapi bila ada potensi gelombang berikutnya. Kami juga sudah menjajaki dengan mereka untuk bisa membangun pabrik obatnya juga di Indonesia dan termasuk bahan baku obatnya,” tandas Menkes.***

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X