Menjaga Tradisi di Tengah Pandemi

- Senin, 16 November 2020 | 01:07 WIB
SM/Ali Basarah : PENTAS KETHOPRAK : Kelompok seniman kethoprak Suka Budaya Desa Banjardawa, Kecamatan Taman, Pemalang saat pentas tahun 2019. (55)
SM/Ali Basarah : PENTAS KETHOPRAK : Kelompok seniman kethoprak Suka Budaya Desa Banjardawa, Kecamatan Taman, Pemalang saat pentas tahun 2019. (55)

Ketoprak merupakan salah satu seni tradisi di Kabupaten Pemalang yang masih berkembang. Namun, pandemi Covid-19 membuat para seniman berhenti tampil. Meski begitu, mereka tetap bertekad untuk melestarikannya.

BANYAK yang khawatir akan pudarnya seni tradisi. Kepedulian generasi muda sekarang terhadap kelestarian seni tersebut dinilai masih kurang. Untuk itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang baru-baru ini merekrut generasi muda agar ikut melestarikan seni tradisi khususnya ketoprak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang Mualip menegaskan, jangan sampai ketoprak menjadi barang asing di mata generasi muda. ”Bahkan jangan sampai ketoprak diakui oleh bangsa lain sebagai budayanya. Karena itu kami melalui Bidang Kebudayaan berikhtiar memberikan pembinaan seni teater ketoprak agar bisa diimplementasikan melalui dunia pendidikan melalui guru,” jelas Mualip.

Proses pembinaan seni tersebut menurutnya bisa berjalan sesuai keadaan dengan memperhatikan protokol kesehatan karena pandemi Covid-19. Sementara itu dalam perkembangannya, ketoprak selalu mengalami pembaharuan yang disesuikan dengan kondisi masyarakatnya. Upaya pengembangan yang dilakukan oleh para seniman kreatif membawa dampak positif pada kecintaan masyarakat pendukung seni tradisi, yang merupakan produk kreatif dari bangsa.

Seniman Pemalang Winahyu Dwi Anggono mengatakan, ketoprak hampir sama dengan seni teater dimana kesenian dipertunjukkan dalam bentuk drama dan dipentaskan di atas panggung. Seni teater menampilkan perilaku manusia melalui gerak, nyanyian, dan tari yang disajikan lengkap dengan dialog dan akting dari para pemainnya. Hanya saja, dalam ketoprak dialog para pemainnya lebih mengutamakan penggunaan bahasa Jawa.

”Dalam ketoprak ada naskah seperti drama para umumnya yang mengandung fakta cerita seperti tokoh, jalan cerita, latar, tempat kejadian, waktu, suasana, sosial, budaya, tema, dan sarana cerita seperti judul, atmosfer atau suasana, dan tekanan yang akan disampaikan,” terangnya. Dia lantas menyoroti berkurangnya jam pelajaran bahasa daerah di sekolah. Bahkan ada juga yang menghapus pelajaran bahasa daerah khususnya bahasa Jawa. Hal tersebut menurutnya secara tidak langsung ikut merugikan upaya melestarikan seni tradisi khususnya ketoprak.

Pengasuh kelompok seni ketoprak Pusaka Budaya, Desa Banjardawa, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Sukandar menjelaskan, sampai saat ini kelompoknya masih eksis. ”Hanya saja lantaran pandemi Covid- 19, latihannya libur dulu sampai situasi memungkinkan,” ujarnya.

Pusaka Budaya menurutnya kali terakhir pentas pada Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI tahun lalu di Desa Banjardawa. Saat ini Suka Budaya diawaki seniman yang memiliki latar belakang beragam. Ada tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, bahkan perangkat desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa. Sukandar yang juga Kades Banjardawa menambahkan, motivasinya menjaga kesenian ketoprak ini adalah untuk melestarikan budaya Jawa. ”Ketoprak yang merupakan sandiwara khas Jawa saat ini sudah kurang diminati kawula muda. Hal itulah yang mendorong kami untuk terus berkarya. Agar ketoprak terus lestari,” tambahnya.

Pusaka Budaya yang diasuhnya bukan tahun kemarin saja pentas. Pada tahun-tahun sebelumnya, mereka juga ikut memeriahkan berbagai perayaan ulang ulang tahun organisasi di Pemalang. (Ali Basarah-56)

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X