Sastra Santri Jadi Identitas Kultural Nusantra, Wamenag: Turut Membangun Karakter Bangsa

- Senin, 25 Oktober 2021 | 17:16 WIB
Wakil Menteri Agama, Dr Zainut Tauhid Saadi. (Tangkapan Layar YouTube/@UIN Walisongo)
Wakil Menteri Agama, Dr Zainut Tauhid Saadi. (Tangkapan Layar YouTube/@UIN Walisongo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sastra santri merupakan wujud penggalian kebenaran, yang memiliki dampak sosial dan budaya terhadap nusantara.

Meski rekaan sastra santri tidak sekedar karya indah estetika semata, karena penciptaannya dapat merupakan hasil penggalian terhadap kebenaran hidup.

"Termasuk kebenaran moral yang berhubungan dengan masyarakat dan masalahnya," ujar Wakil Menteri Agama Dr Zainut Tauhid Saadi, MSi, Senin 25 Oktober 2021.

Baca Juga: Tiktok Challenge Sumpah Pemuda, Kemenpora Ajak Pemuda Gelorakan Semangat Kebangsaan

"Rata-rata sastra santri kala itu ditulis dengan huruf arab pegon. Ditulis oleh ulama atau santri," tambah Wamenag dalam kegiatan Sastra Santri Nusantara Melayu, di Ruang Teater Lantai 4 UIN Walisongo.

Wamenag mengatakan bahwa sastra melayu sangat dipengaruhi oleh Islam.

Dalam perkembangannya, sastra santri berkembang dalam beragam bentuk, misal berupa tembang, syair dan lainnya ditulis oleh laiknya Buya Hamka, Gus Mus dan sebagainya.

Baca Juga: Airlangga Minta Alumni Golkar Institute Ambil Peran Strategis Mengawal Ekonomi Global

"Karya sastra jadi cerminan identitas kultural nusantara yang turut berkontribusi membangun karakter bangsa kita," terang Wamenag

Kegiatan ini mengambil tema 'Moderasi Beragama di Kalangan Milenial'.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rabu Pagi, Lumajang Diguncang Gempa 3,3 SR

Rabu, 8 Desember 2021 | 13:03 WIB

PMI DIY Salurkan Bantuan bagi Korban Erupsi Semeru

Selasa, 7 Desember 2021 | 23:28 WIB

Kemenag Raih Anugerah Meritokrasi KASN 2021

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:40 WIB
X